RI News, Kramatorsk, Ukraina – Ledakan bom panduan Rusia yang menargetkan bus umum penuh penumpang di kota Kramatorsk, wilayah Donetsk yang dilanda perang, telah menewaskan 30 orang dan melukai puluhan lainnya, menandai gelombang serangan udara baru yang semakin mematikan di timur Ukraina. Otoritas setempat mengatakan serangan pagi itu terjadi tepat di samping halte bus, memaksa pemerintah setempat menghentikan sementara semua transportasi umum di area tersebut sebagai tindakan pencegahan. Kepala Administrasi Militer Kota Oleksandr Honcharenko menyatakan dengan tegas bahwa Rusia sengaja menargetkan warga sipil dalam sikap kejam dan provokatif. Ia menambahkan bahwa upaya penyelamatan terhambat parah oleh serangan drone kecil Rusia yang menyusul, sehingga tim penyelamat kesulitan mengakses reruntuhan yang masih mengancam runtuh.
Perang udara jarak jauh antara kedua negara ini kini semakin intens setelah lebih dari empat setengah tahun invasi penuh skala besar Rusia. Rusia yang secara bertahap memperkuat serangannya dalam beberapa minggu terakhir, menekan Ukraina saat negara itu sedang bersiap menghadapi musim dingin yang panjang. Serangan ini tidak hanya merusak infrastruktur penting, tetapi juga berusaha menekan perekonomian perang yang sudah hancur berkepanjangan. Target serangan Rusia dalam periode terakhir mencakup sistem kelistrikan nasional, industri strategis, jalur kereta api, pos pemerintah, pusat perbelanjaan, jaringan komunikasi, pom bensin, serta pengiriman biji-bijian ke luar negeri.

Serangan kemarin diikuti oleh gelombang rudal yang menewaskan 22 orang termasuk lima anak-anak di kota Pryluky, utara Ukraina. Di lokasi serangan di Pryluky, tim penyelamat sedang membersihkan reruntuhan rumah sakit yang hancur oleh rudal Rusia. Sedikitnya 54 orang terluka serius, dan anjing pelacak sedang mencari warga sipil yang masih hilang. Beberapa korban selamat terpaksa tidur di apartemen yang rusak parah karena tidak memiliki tempat pengungsian lain. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy langsung berkunjung ke Pryluky bersama Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband untuk mengevaluasi dampak dan menyatukan komitmen internasional. Dalam pernyataan langsung, Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia akan terus meningkatkan intensitas serangan rudal dan drone setiap hari menjelang musim dingin. Ia menekankan bahwa bantuan pertahanan dari negara-negara NATO harus diwujudkan dalam bentuk konkret, termasuk pasokan sistem anti-rudal, amunisi untuk pesawat tempur, serta investasi di peluncur pertahanan udara. “Semua ini langsung menyelamatkan nyawa setiap hari,” tulis Zelenskyy.
Sementara itu, perusahaan energi nasional DTEK melaporkan bahwa operator jaringan Ukrenergo telah memerintahkan pemadaman darurat listrik di ibu kota Kyiv. Keluarga-keluarga warga sipil kini diimbau segera mempersiapkan kit darurat, menyimpan cadangan air bersih, dan menyiapkan sumber listrik alternatif guna menghadapi blackout yang diprediksi akan berlangsung lama. Polisi Kyiv juga mengumumkan bahwa spesialis penanganan bom telah berhasil menangani dua rudal balistik Rusia yang belum meledak, masing-masing bervolume setengah ton, yang mendarat dekat dengan kompleks perumahan. Malam sebelumnya, serangan drone Rusia di distrik Obolonskyi dan Desnianskyi menewaskan empat orang dan melukai 12 orang termasuk empat anak-anak. Di sisi lain, Ukraina mengklaim berhasil menyerang kompleks kilang minyak besar di kota Salavat, Rusia, yang berjarak 1.200 kilometer timur Moskow. Klaim ini menyebut fasilitas tersebut sebagai salah satu yang terbesar di Rusia, meskipun belum dapat diverifikasi secara independen. Drone Ukraina juga mencapai wilayah Omsk di Siberia barat, lebih dari 2.000 kilometer dari perbatasan, di mana sebagian besar drone ditembak jatuh, tetapi satu drone berhasil mendarat di hub industri utara.
Baca juga : Demian Aditya Absen Dua Sidang, Perceraian Sara Wijayanto Dikabulkan Verstek
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyampaikan bahwa pemerintah Ankara telah mengajukan proposal konkret kepada kedua pihak untuk melindungi kapal-kapal sipil di Laut Hitam, sekaligus memperingatkan bahwa eskalasi militer lebih lanjut dapat mengganggu perdagangan komersial dan aliran biji-bijian global. Di pihak Lituania, Kementerian Pertahanan melaporkan penempatan tambahan 100 tentara untuk memperkuat perbatasan dengan enklave Rusia Kaliningrad. Negara Baltik ini menekankan bahwa Kaliningrad yang terisolasi dari daratan Rusia menjadi titik rawan keamanan strategis bagi NATO.
Di tengah eskalasi yang tak henti, Ukraina semakin menunjukkan ketahanan meski menghadapi tekanan ganda. Namun, tanpa dukungan pertahanan yang lebih besar, risiko serangan musim dingin yang lebih mematikan tetap mengintai. Dunia tidak boleh hanya bersaksi; peran diplomasi dan bantuan harus diperkuat agar nyawa warga sipil yang menjadi korban tidak sia-sia.
Pewarta : Setiawan Wibisono
