RI News. Jakarta – Dalam upaya memperkuat fondasi industri kimia nasional dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku esensial, tiga entitas kunci—Danantara Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), serta Chandra Asri Group—telah menandatangani Conditional Share Subscription Agreement (CSSA). Kesepakatan ini menandai komitmen investasi konkret guna mendukung pembangunan fasilitas produksi Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten.
Perjanjian tersebut merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) sebelumnya, di mana Danantara Indonesia dan INA berperan sebagai investor strategis. Total investasi dari kedua lembaga pengelola dana negara ini mencapai 200 juta dolar AS, yang akan dialokasikan untuk pengembangan pabrik yang dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali, anak usaha Chandra Asri Group. Proyek secara keseluruhan bernilai 800 juta dolar AS dan termasuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menitikberatkan pada produksi bahan baku vital bagi sektor hulu hingga hilir.
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, menekankan bahwa langkah ini mempertegas dedikasi untuk mengembangkan industri strategis yang mampu menciptakan nilai tambah tinggi, membuka lapangan kerja, serta mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. “Kolaborasi ini bukan sekadar jawaban atas tantangan impor, melainkan aksi nyata dalam mempercepat hilirisasi sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Sementara itu, Eddy Porwanto, Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA, menyatakan bahwa investasi ini selaras dengan mandat jangka panjang untuk mengarahkan modal ke sektor prioritas nasional. “Kemitraan ini membangun landasan permodalan yang kokoh guna pengembangan kapasitas industri bahan baku secara berkelanjutan, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah domestik dan ketahanan industri,” katanya.
Erwin Ciputra, Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, menyambut baik partisipasi kedua investor negara tersebut. Ia optimistis proyek CA-EDC akan secara signifikan memangkas ketergantungan impor bahan kimia strategis, memperkokoh rantai pasok nasional, serta mendukung agenda hilirisasi secara luas. “Pembangunan dan operasi fasilitas ini diproyeksikan menciptakan sekitar 3.000 kesempatan kerja pada tahap konstruksi dan 250 pekerjaan tetap saat beroperasi, disertai dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat dan industri di wilayah Cilegon serta sekitarnya,” tambahnya.
Pada tahap pertama, pabrik CA-EDC dirancang dengan kapasitas produksi tahunan 400.000 ton Caustic Soda (bentuk kering) dan 500.000 ton Ethylene Dichloride (EDC). Fasilitas ini dikembangkan menggunakan teknologi serta standar keselamatan industri terkini, memastikan efisiensi operasional, keandalan pasokan, dan kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan.
Baca juga : Festival Cap Go Meh Singkawang 2026 Menjadi Panggung Harmoni di Tengah Gejolak Dunia
Caustic Soda, sebagai salah satu output utama, menjadi bahan baku penting dalam pembuatan sabun dan deterjen, pemurnian alumina, serta industri kertas. Adapun EDC berperan krusial sebagai precursor utama dalam sektor konstruksi dan pengemasan. Dengan kapasitas domestik yang ditingkatkan, produksi Caustic Soda diharapkan memperkuat substitusi impor secara substansial, sementara EDC tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga membuka peluang ekspor yang berpotensi menambah devisa negara.
Kemitraan antara lembaga investasi negara dengan pemain petrokimia terkemuka ini mencerminkan sinergi lintas sektor yang strategis. Melalui penguatan rantai pasok lokal dan ekspansi potensi ekspor, kolaborasi ini diharapkan menjadi katalisator percepatan industrialisasi berkelanjutan, sekaligus mengangkat posisi daya saing Indonesia di kancah global. Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, menjanjikan kontribusi jangka panjang bagi transformasi ekonomi nasional.
Pewarta : Diki Eri

