
RI News Portal. NTB, 30 Agustus 2025 – Kerusuhan yang terjadi di Gedung DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu, 23 Agustus 2025, meninggalkan dampak besar. Sekretariat DPRD NTB memperkirakan kerugian sementara akibat perusakan, pembakaran, dan penjarahan gedung mencapai puluhan miliar rupiah. Perkiraan ini masih bersifat sementara, namun dampaknya sudah terasa jelas bagi masyarakat dan lembaga legislatif setempat.
Menurut Kepala Bagian Umum dan Humas Sekretariat DPRD NTB, Muhammad Erwan, kerugian terbesar datang dari gedung yang terbakar dan fasilitas yang ikut rusak. “Perkiraan kerugian sementara itu mencapai puluhan miliar, terutama dari dua gedung yang terbakar,” ujar Erwan saat memberikan keterangan di Kantor DPRD NTB di Mataram.
Dua gedung yang dihancurkan dalam aksi unjuk rasa tersebut adalah Gedung Utama DPRD yang biasanya digunakan untuk rapat dan sidang paripurna, serta Gedung Sekretariat DPRD NTB yang digunakan oleh karyawan dan ASN. Gedung utama yang terbakar habis menyisakan hanya rangka atap, sementara bagian dalam gedung mengalami kerusakan berat. Sekretariat DPRD yang juga dijarah massa, kini dalam kondisi porak-poranda. “Semua ruang penting, termasuk ruang pimpinan, ruang sekretariat, ruang wakil ketua, dan ruang paripurna, semuanya habis dilalap api,” ungkap Erwan dengan kecewa.

Erwan mengungkapkan bahwa kejadian ini bermula ketika massa aksi mulai berdatangan ke Gedung DPRD pada pukul 12.00 Wita. Meski Ketua DPRD, Baiq Isvie Rupaeda, sempat berencana menemui massa, situasi yang semakin tidak terkendali membuat negosiasi menjadi tidak mungkin dilakukan. Aksi ini terjadi pada hari Sabtu, yang merupakan hari libur bagi sebagian besar pegawai, termasuk staf Sekretariat DPRD, sehingga berkas-berkas penting tidak dapat diamankan dan tidak ada upaya mitigasi lebih lanjut.
“Aksi pembakaran ini semakin besar karena tidak ada komunikasi atau negosiasi yang bisa dilakukan. Ini merupakan salah satu alasan mengapa situasi berkembang menjadi kerusuhan yang tidak terkendali,” tambahnya. Menurut Erwan, ketidaksiapan aparat dalam menghadapi massa yang kian beringas juga memperburuk keadaan. Polisi, yang lebih memilih tidak terlibat dalam bentrokan langsung, akhirnya tidak dapat menghentikan aksi pembakaran yang meluas.
Baca juga : Tragedi KDRT di Ciakar, Panongan: Suami Buron Usai Istri Meninggal Akibat Penganiayaan
Tindakan pembakaran ini terjadi setelah massa aksi memaksa masuk ke dalam gedung DPRD, menghancurkan fasilitas dan merusak berbagai bagian gedung. Ketiadaan anggota dewan pada saat kejadian menambah ketegangan, dan negosiasi yang biasanya dapat meredakan keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Pembakaran Gedung DPRD NTB ini memberikan dampak yang lebih luas. Selain kerugian finansial yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, kejadian ini juga mengganggu pelayanan publik yang biasanya disediakan oleh lembaga legislatif. Gedung yang telah rusak parah ini merupakan pusat aktivitas bagi warga NTB yang ingin mendapatkan akses terhadap kebijakan dan informasi dari pemerintah daerah.
Pihak keamanan dan aparat setempat kini sedang menginvestigasi kejadian ini dan berupaya untuk menahan pelaku penjarahan dan perusakan. Sementara itu, masyarakat dan para pemangku kebijakan di NTB berharap agar kejadian serupa tidak terulang, dengan mengedepankan dialog yang konstruktif antara pemerintah dan masyarakat.
Pewarta : Arba Ode
