RI News Portal. Wonogiri, Jawa Tengah – Ratusan siswa di Kecamatan Jatisrono mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Jatisari. Insiden ini, yang pertama kali dilaporkan pada hari-hari setelah konsumsi pada 10 Januari 2026, menimbulkan pertanyaan mendalam tentang mekanisme pengawasan dan distribusi pangan di lingkungan pendidikan pedesaan.
Berdasarkan laporan awal, gejala yang dialami para siswa mencakup mual, sakit perut, dan diare, yang muncul tak lama setelah mereka menyantap menu berupa mi ayam disertai dua butir bakso, roti basah, serta susu dengan merek Wutri Brain Omega. Kepala SPPG Desa Jatisari, Dimas, mengonfirmasi adanya keluhan dari para siswa dan orang tua mereka. “Gejalanya berupa perut mual dan mencret,” ujar Dimas saat ditemui pada 15 Januari 2026. Ia menambahkan bahwa jumlah korban pasti belum dapat ditentukan, karena pihaknya masih menunggu hasil analisis laboratorium dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri.
Program MBG, yang dirancang untuk meningkatkan asupan gizi siswa di tingkat dasar dan menengah, melayani sekitar 2.268 penerima di wilayah tersebut. Namun, peristiwa ini mengungkap potensi celah dalam rantai pasok makanan, mulai dari penyediaan bahan hingga penyajian. Dimas menjelaskan bahwa laporan pertama datang dari orang tua murid dan puskesmas setempat, yang segera memicu respons dari tim SPPG serta aparat Kepolisian Sektor Jatisrono. Mereka mendatangi sekolah-sekolah terkait untuk mendata siswa yang terdampak, meskipun tidak ada kasus yang memerlukan rawat inap di rumah sakit. Beberapa siswa hanya memerlukan pengobatan sederhana untuk diare ringan di puskesmas terdekat.

Sementara penyelidikan berlangsung, SPPG Desa Jatisari telah ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pusat. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan sambil menanti hasil uji laboratorium, yang diharapkan dapat mengidentifikasi penyebab pasti—apakah dari kontaminasi bahan, proses pengolahan, atau faktor lain. “Kami akan bekerja sama erat dengan dinas kesehatan untuk memperkuat protokol ke depan,” tambah Dimas, menekankan komitmen untuk mencegah kejadian serupa.
Dari perspektif pendidikan, insiden ini menyoroti kerentanan sistem gizi sekolah di daerah rural. Martutik, Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Desa Tasikhargo, salah satu institusi penerima MBG, menyatakan bahwa tidak semua siswa di sekolahnya terpengaruh, tetapi setidaknya 25 anak menunjukkan gejala serupa. “Ini mirip dengan laporan dari sekolah lain yang menerima menu sama pada hari itu,” katanya. Pengalaman ini, menurutnya, memerlukan evaluasi ulang terhadap diversifikasi menu dan pelatihan penyedia layanan gizi.
Secara lebih luas, kejadian di Jatisrono ini mencerminkan tantangan dalam implementasi program gizi nasional, di mana tujuan mulia untuk mengatasi stunting dan kekurangan nutrisi sering kali bertabrakan dengan realitas logistik di tingkat lokal. Penelitian akademis di bidang kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa keracunan makanan di sekolah sering kali berakar pada kurangnya pengujian rutin dan koordinasi antarlembaga. Di Wonogiri, yang dikenal dengan lanskap agrarisnya, faktor seperti penyimpanan bahan makanan di musim hujan bisa memperburuk risiko. Masyarakat setempat kini menuntut transparansi lebih tinggi, agar program seperti MBG tidak hanya bergizi, tapi juga aman secara holistik.
Penyelidikan lanjutan oleh otoritas kesehatan diharapkan memberikan rekomendasi konkret, termasuk peningkatan standar higienis dan monitoring berbasis komunitas. Sementara itu, para siswa yang terdampak dilaporkan telah pulih secara bertahap, meski kekhawatiran terhadap kepercayaan publik terhadap inisiatif gizi tetap menjadi isu krusial.
Pewarta : Nandar Suyadi.

