RI News. Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan komitmen kuat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pasca bencana hidrometeorologi parah yang melanda wilayah Sumatera sejak akhir 2025. Pendekatan ini mengedepankan prinsip build back better, yaitu membangun kembali lebih tangguh, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan jangka panjang.
Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan bahwa capaian terkini menunjukkan kemajuan signifikan di sejumlah sektor kunci. “Progres penanganan pasca bencana di wilayah Sumatera telah mencatat lonjakan positif di berbagai bidang,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Di sektor penyediaan layanan dasar, pemulihan pasokan air baku dan air bersih telah mencapai 71 persen secara keseluruhan. Khusus untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), dari total 176 unit yang terdampak, sebanyak 153 unit atau sekitar 87 persen telah kembali beroperasi penuh, memastikan akses air bersih bagi masyarakat terdampak mulai pulih secara bertahap.

Pada aspek konektivitas, infrastruktur jalan dan jembatan nasional telah sepenuhnya pulih dan berfungsi 100 persen, memungkinkan mobilitas lintas wilayah kembali normal. Sementara itu, jalan daerah mencatat progres 93 persen, meski pembangunan jembatan daerah masih tertinggal di angka 63 persen, menjadi fokus percepatan selanjutnya.
Di bidang sumber daya air, dari 31 daerah irigasi yang rusak akibat banjir dan longsor, saat ini 25 di antaranya sedang dalam tahap penanganan intensif dengan capaian rata-rata 81 persen. Seluruh Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang terdampak juga telah berhasil direstorasi 100 persen, mendukung pengelolaan lingkungan pascabencana.
Upaya penyediaan hunian tetap bagi korban turut menunjukkan kemajuan. Pembangunan 1.301 unit rumah hunian telah mencapai progres rata-rata 64 persen, dengan target penyelesaian seluruhnya pada Februari 2026 mendatang.
Salah satu langkah antisipatif paling menonjol adalah percepatan pembangunan struktur pengendali banjir dan sedimen. Kementerian PU sedang mempercepat konstruksi 108 unit sabo works, yang terdiri dari 98 sabo dam dan 10 sand pocket. Struktur ini dirancang untuk menahan material longsor seperti batu, kayu, dan sedimen dari hulu sungai, sehingga mencegah banjir bandang berulang di kawasan hilir.
Baca juga : BNN Perkuat Front Digital: Call Center 184 Siaga 24 Jam Penuh Lawan Narkoba
“Ada sekitar 100 sabo dam yang akan kita bangun di Aceh dan Sumatera Utara. Memang belum waktunya secara rutin, tapi kami takut kejadian tragis ini terulang. Oleh karena itu, kami terapkan model design and build untuk mempercepat proses,” jelas Dody. Ia optimistis, dalam kurun 2–3 bulan ke depan, keseluruhan 108 struktur tersebut di tiga provinsi terdampak dapat diselesaikan.
Kementerian PU menekankan bahwa seluruh upaya ini dilaksanakan secara terintegrasi bersama kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan memastikan pemulihan infrastruktur tidak hanya cepat, tetapi juga tangguh menghadapi risiko bencana di masa depan, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat Sumatera yang masih berjuang bangkit dari dampak bencana terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Pewarta : Yudha Purnama

