RI News. Hoston, 11 April 2026 – Empat astronot dari misi Artemis II berhasil mendarat dramatis di Samudra Pasifik lepas pantai San Diego pada Jumat (10 April 2026), menutup perjalanan bersejarah pertama umat manusia ke sekitar Bulan setelah lebih dari 50 tahun. Misi ini menjadi tonggak penting bagi program Artemis NASA dalam mempersiapkan kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan.
Kapsul Orion bernama Integrity yang membawa Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Christina Koch, serta astronot Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen, menyelesaikan penerbangan selama hampir 10 hari dengan selamat. Mereka memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan mencapai Mach 33 (33 kali kecepatan suara), sebuah tantangan teknis yang belum pernah dialami sejak era misi Apollo puluhan tahun lalu. Proses pendaratan dilakukan secara otomatis, diikuti pengerahan parasut yang presisi hingga menyentuh permukaan laut tepat sasaran.
Selama misi, awak pesawat tidak hanya mencatat rekor jarak terjauh dari Bumi, yaitu mencapai 406.771 kilometer (252.756 mil), melampaui rekor Apollo 13. Mereka juga berhasil mendokumentasikan pemandangan sisi jauh Bulan yang selama ini belum pernah dilihat langsung oleh manusia, serta menyaksikan fenomena gerhana matahari total dari perspektif luar angkasa. Momen emosional terjadi ketika para astronot meminta izin untuk menamai dua kawah di Bulan dengan nama pesawat mereka dan almarhumah istri Wiseman, Carroll.

Dari Pusat Kendali Misi di Houston, ketegangan terasa saat kapsul memasuki fase pemanasan ekstrem dan mengalami pemadaman komunikasi selama beberapa menit. Perisai panas kapsul yang dirancang menahan suhu ribuan derajat menjadi sorotan utama, mengingat performanya pada uji coba tanpa awak tahun 2022 sempat menunjukkan tantangan. Namun, kali ini semua berjalan sesuai rencana. Kapal USS John P. Murtha beserta tim pemulihan gabungan NASA dan militer Amerika Serikat segera mendekat untuk mengevakuasi awak.
Administrator NASA Jared Isaacman menyambut kepulangan mereka dengan optimisme. “Kita telah kembali ke bisnis mengirim manusia ke Bulan, membawa mereka pulang dengan selamat, dan membuka jalan bagi misi-misi mendatang. Ini baru permulaan,” ujarnya dari kapal pemulihan.

Misi Artemis II memang tidak mendarat di permukaan Bulan, melainkan melakukan terbang lintas (flyby) untuk menguji sistem Orion secara menyeluruh dalam kondisi luar angkasa yang sebenarnya. Keberhasilan ini menjadi langkah krusial menuju Artemis III yang direncanakan tahun depan, di mana astronot akan berlatih docking dengan pendarat bulan di orbit Bumi, serta Artemis IV yang menargetkan pendaratan awak di dekat Kutub Selatan Bulan pada 2028.
Baca juga : Kim Jong Un Tegaskan Dukungan untuk Dunia Multipolar China di Tengah Dinamika Geopolitik Asia Timur
Meski demikian, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Beberapa tantangan teknis muncul, seperti masalah katup pada sistem air minum dan propelan, serta gangguan pada sistem toilet kapsul. Para astronot menyikapi hal tersebut dengan tenang. “Kita tidak bisa menjelajah lebih dalam tanpa menghadapi ketidaknyamanan, pengorbanan, dan risiko tertentu. Semua itu sepadan,” kata Christina Koch.
Jeremy Hansen menambahkan bahwa uji coba di darat memang penting, tetapi pengujian sesungguhnya baru terjadi saat peralatan berada di luar angkasa. “Itu adalah ujian yang sesungguhnya dan sangat menantang,” ujarnya.
Para astronot juga menyampaikan pesan mendalam tentang Bumi. Melalui foto-foto spektakuler yang mereka bagikan, termasuk pemandangan Bumi terbenam di balik Bulan (Earthset), mereka mengingatkan betapa indah dan istimewanya planet kita di alam semesta. “Kami berharap dunia sejenak berhenti dan menyadari bahwa ini adalah tempat yang sangat spesial. Kita semua harus menjaga karunia ini,” tutur Wiseman.

Kepulangan Artemis II tidak hanya menjadi pencapaian teknis, tetapi juga simbol harapan bagi eksplorasi luar angkasa masa depan. Dengan melibatkan mitra internasional seperti Kanada, misi ini memperkuat semangat kolaborasi global dalam mengeksplorasi Bulan sebagai batu loncatan menuju Mars dan lebih jauh lagi.
Keberhasilan ini diharapkan mendorong generasi baru ilmuwan dan astronot untuk terus maju, sekaligus mengingatkan kita semua akan kerapuhan sekaligus keindahan planet tempat kita tinggal.
Pewarta : Vie

