RI News Portal. Bitung, 22 Desember 2025 – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, warga Kota Bitung, Sulawesi Utara, kembali menyuarakan ketidakpuasan terhadap mekanisme pengiriman paket melalui metode Cash on Delivery (COD). Beberapa konsumen melaporkan bahwa pesanan mereka yang semestinya diantar langsung ke alamat rumah kini harus diambil secara mandiri di kantor layanan pengiriman setempat, yang berlokasi di Kelurahan Wangurer Timur, Kecamatan Madidir.
Fenomena ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, terutama karena COD dirancang untuk memberikan kemudahan pembayaran di tempat setelah barang diterima. “Pesanan dengan opsi COD seharusnya memastikan kurir mengantar hingga ke pintu rumah, sehingga pembeli dapat membayar langsung saat menerima barang. Namun, kini kami diarahkan untuk mengambil sendiri, yang membuat esensi dari fitur tersebut hilang,” ungkap salah seorang warga yang memilih anonim pada Senin (22/12/2025).
Kekecewaan ini semakin mendalam karena lokasi kantor pengambilan sering kali jauh dari tempat tinggal, memaksa konsumen mengeluarkan waktu ekstra serta biaya transportasi. Seorang responden lain menyatakan, “Jika harus mengambil sendiri, lebih baik berbelanja langsung di pasar atau toko fisik, yang lebih praktis dan tanpa risiko keterlambatan.”

Selain perubahan mekanisme pengantaran, kondisi di lokasi pengambilan juga menjadi sorotan. Warga menggambarkan suasana yang kurang terorganisir, dengan absennya sistem nomor urut yang jelas. Hal ini menyebabkan kerumunan dan kebingungan di antara penunggu, terutama dalam cuaca panas yang menyengat. “Kami rela menunggu berjam-jam demi barang pesanan yang dibutuhkan untuk keperluan akhir tahun, tetapi tanpa pengaturan antrean yang proper, proses menjadi melelahkan dan tidak efisien,” keluh salah satu konsumen.
Dari perspektif operasional, penanggung jawab kantor layanan setempat, Aldi, mengonfirmasi adanya penumpukan paket yang mencapai sekitar 12.000 unit. “Lonjakan volume ini dipicu oleh peningkatan pesanan menjelang liburan, sementara tenaga pengantar kami terbatas, hanya sekitar 30 orang,” jelas Aldi. Ia menegaskan bahwa pengalihan sementara layanan COD ke pengambilan di kantor bukanlah kebijakan penghindaran, melainkan adaptasi darurat akibat keterbatasan sumber daya manusia. “Kami sedang berupaya mengelola situasi ini sebaik mungkin, meskipun belum dapat kembali ke pengantaran langsung ke rumah dalam waktu dekat.”
Baca juga : Gubernur Aceh Tekankan Percepatan Rehabilitasi Pascabencana di Gayo Lues
Kasus di Bitung mencerminkan tantangan lebih luas dalam logistik e-commerce di daerah regional Indonesia, di mana lonjakan musiman sering kali melebihi kapasitas infrastruktur dan tenaga kerja. Para konsumen mengharapkan penyedia layanan segera merekrut tambahan kurir serta menerapkan sistem pengelolaan antrean digital atau manual yang lebih baik, guna meminimalkan dampak negatif terhadap pengalaman belanja daring. Situasi ini juga menekankan perlunya keseimbangan antara ekspansi platform digital dan kesiapan operasional di tingkat lokal, agar kepercayaan konsumen tetap terjaga di tengah pertumbuhan transaksi online yang pesat.
Pewarta: Steven Tumuyu

