RI News Portal. Jakarta 22 Desember 2025 – Film ketiga dalam seri Avatar karya James Cameron, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang dirilis pada 19 Desember 2025, berhasil mencatatkan pendapatan pembukaan global sebesar 345 juta dolar AS pada akhir pekan pertamanya. Angka ini menempatkannya sebagai debut terbesar kedua di tahun 2025, hanya kalah dari sekuel animasi yang meraup hampir 500 juta dolar dalam tiga hari awal. Di pasar domestik Amerika Utara, film ini mengumpulkan 88 juta dolar, sementara kontribusi internasional mencapai 257 juta dolar, dengan China sebagai penyumbang terbesar yakni 57,6 juta dolar—melebihi pencapaian dua film sebelumnya di negara tersebut.
Meskipun angka pembukaan ini mengesankan, terdapat penurunan signifikan sekitar 35% dibandingkan dengan Avatar: The Way of Water (2022) yang membuka dengan 134 juta dolar di Amerika Utara dan total global 435 juta dolar. Penurunan ini dapat diatribusikan pada beberapa faktor, termasuk ulasan kritis yang lebih beragam—with skor 68% di agregator ulasan—serta durasi film yang mencapai lebih dari tiga jam, yang mungkin memengaruhi frekuensi kunjungan penonton. Namun, pola historis seri Avatar menunjukkan bahwa kekuatan utamanya bukan pada ledakan pembukaan, melainkan pada ketahanan jangka panjang (long legs). Film pertama (2009) hanya membuka dengan 77 juta dolar domestik, tetapi bertahan lama hingga mencapai 2,92 miliar dolar global, sementara sekuelnya mengumpulkan 2,3 miliar dolar.

Analis industri menekankan bahwa respons positif dari penonton awal—dengan nilai tinggi di survei pasca-tayang—dan dominasi format premium seperti 3D (56% penonton memilihnya) serta pemutaran IMAX (menyumbang porsi signifikan) menjadi indikator kuat untuk performa berkelanjutan. Periode liburan akhir tahun, yang secara tradisional menjadi koridor paling menguntungkan bagi film keluarga dan spektakuler visual, diperkirakan akan mendongkrak pendapatan lebih lanjut. Dengan anggaran produksi minimal 400 juta dolar, film ini menghadapi tekanan tinggi untuk mencapai titik impas yang substansial, mengingat Cameron telah menyatakan bahwa keberhasilan komersialnya akan menentukan kelanjutan instalmen keempat dan kelima, yang naskahnya telah selesai.
Fenomena ini mencerminkan dinamika lebih luas dalam industri perfilman pasca-pandemi: ketergantungan pada blokbuster berbiaya tinggi untuk menggerakkan pemulihan box office global, di mana visual inovatif dan pengalaman bioskop imersif menjadi diferensiasi utama dari platform streaming. Seri Avatar tetap menjadi benchmark bagi film-film yang mengandalkan teknologi canggih dan dunia fiksi ilmiah untuk menarik penonton internasional, terutama di pasar Asia yang semakin dominan. Sementara kompetisi pekan pembukaan termasuk film animasi Alkitabiah yang meraup 22 juta dolar dan thriller psikologis dengan 19 juta dolar, serta proyeksi ekspansi film drama olahraga independen pada akhir Desember, Fire and Ash diposisikan untuk mendominasi hingga awal 2026.
Baca juga : Kesepakatan Perdagangan Bebas India-Selandia Baru: Diversifikasi Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
Dari perspektif akademis, kesuksesan berkelanjutan seri ini mengilustrasikan evolusi model bisnis Hollywood menuju fransek besar yang bergantung pada ekosistem global, di mana faktor budaya lokal—like preferensi terhadap spektakel visual di China—memainkan peran krusial. Namun, risiko finansial yang tinggi juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan model ini di tengah fluktuasi selera penonton dan persaingan dari konten digital. Performa jangka panjang Fire and Ash akan menjadi studi kasus penting bagi analisis ekonomi kreatif di era kontemporer.
Pewarta : Vie

