RI News Portal. Toronto — Perdana Menteri Mark Carney menegaskan bahwa Kanada sama sekali tidak berniat menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan China, meski baru-baru ini mencapai kesepakatan penurunan tarif di sektor tertentu. Pernyataan ini langsung menanggapi ancaman keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif 100 persen terhadap seluruh barang impor asal Kanada jika Ottawa dianggap “membuka pintu” bagi Beijing.
Dalam wawancara hari Minggu, Carney menjelaskan bahwa kesepakatan yang baru dicapai dengan China hanya bertujuan memperbaiki ketegangan perdagangan yang muncul dalam dua tahun terakhir. Kesepakatan itu mencakup penurunan tarif impor kendaraan listrik (EV) China dari 100 persen menjadi 6,1 persen untuk kuota terbatas, yakni maksimal 49.000 unit per tahun pada tahap awal, dengan potensi peningkatan hingga sekitar 70.000 unit dalam lima tahun ke depan. Sebagai imbalannya, China menjanjikan penurunan tarif terhadap produk pertanian Kanada seperti minyak dan bungkil kanola, daging babi, serta makanan laut, serta komitmen investasi di sektor otomotif Kanada dalam tiga tahun mendatang.

“Yang kami lakukan hanyalah mengatasi beberapa distorsi tarif yang timbul baru-baru ini, bukan membuka pasar secara bebas tanpa batas,” ujar Carney. Ia menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen dalam Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA/CUSMA), yang mewajibkan pemberitahuan sebelum menjalin kesepakatan dengan ekonomi non-pasar. “Kami tidak punya rencana melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan China atau negara non-pasar lainnya,” tambahnya.
Ancaman tarif 100 persen dari Trump muncul melalui serangkaian unggahan di media sosial, di mana ia menyebut Kanada sedang “dikuasai sepenuhnya oleh China” dan memperingatkan agar industri otomotif Kanada tidak bergantung pada akses pasar Amerika Serikat yang kini terancam. Trump juga memposting video pernyataan dari pimpinan asosiasi produsen kendaraan Kanada yang menilai pasar domestik Kanada terlalu kecil untuk menopang produksi skala besar tanpa ekspor ke AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut mengkritik langkah Carney, menyebutnya sebagai upaya “memberi sinyal kebaikan kepada kalangan globalis” di tengah rencana renegosiasi USMCA yang akan dimulai musim panas ini. Bessent menambahkan bahwa Washington tidak akan membiarkan Kanada menjadi “jalur pintas” bagi barang murah China memasuki pasar AS.
Ketegangan ini terjadi di tengah konteks lebih luas hubungan AS-Kanada yang memanas, termasuk pernyataan Trump yang berulang kali menggoda soal kedaulatan Kanada dan bahkan mengusulkan penggabungan wilayah sebagai negara bagian ke-51 AS. Pidato Carney di Forum Ekonomi Dunia Davos baru-baru ini—yang menyerukan negara-negara menengah untuk bersatu menghadapi pemaksaan kekuatan besar—juga mendapat sorotan karena dianggap secara tidak langsung menyasar kebijakan Trump.
Para analis perdagangan menilai langkah Carney sebagai upaya strategis Kanada untuk mendiversifikasi mitra ekonomi di tengah ketidakpastian hubungan dengan Washington. Namun, para pengamat dalam negeri memperingatkan risiko balasan tarif dari AS dapat berdampak serius terhadap sektor manufaktur dan ekspor Kanada yang sangat bergantung pada pasar tetangga selatannya.
Hingga kini, pemerintah Kanada menyatakan akan terus mempertahankan kedaulatan kebijakan perdagangannya sambil menjaga komitmen terhadap aliansi tradisional, termasuk USMCA. Sementara itu, Washington tampaknya tetap pada posisi kerasnya dalam menjaga dominasi rantai pasok regional dari pengaruh China.
Pewarta : Anjar Bramantyo

