RI News, Wonogiri – Keterbatasan fisik tidak menghentikan langkah Jumadi (akrab disapa Jasmadi), pemuda penyandang disabilitas asal Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Kamis (15/10/2026). Bersama istrinya, Karsi, yang juga penyandang disabilitas sejak kecil, ia menekuni profesi penjahit demi menjadi pengusaha jahit yang sukses, mencukupi kebutuhan keluarga, dan membiayai sekolah anak mereka.
Pasangan ini setiap hari bergelut dengan kain dan jarum. Kondisi fisik berupa cacat pada kaki tidak dijadikan alasan untuk berhenti berkarya. Mereka justru terus beradaptasi dan melahirkan inovasi kreatif di tengah tantangan ekonomi. Di balik kesederhanaan hidupnya, Jumadi dan Karsi tak pernah kendur menjemput rezeki melalui profesi penjahit busana.
Di kalangan pelanggan, Jumadi dikenal sebagai penjahit serba bisa. Ia menggarap pakaian laki-laki maupun perempuan. Namun, keahlian yang paling menonjol adalah mendesain jas dan basofi, hingga melekatlah nama panggilan “Jasmadi”. Ia mulai menggeluti dunia jahit sejak masih lajang, sebagai buruh di sebuah usaha penjahit ternama di Kota Wonogiri.

Seiring waktu, Jumadi memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan mesin jahit seadanya dan modal pas-pasan. Meski menyandang disabilitas, ia pantang menyerah dan tetap menjadikan menjahit sebagai satu-satunya sumber penghidupan.
Saat ditemui di kediamannya, Jumadi menuturkan prinsip hidupnya kepada RI News. “Saya tidak bergantung pada orang tua, saya usaha sendiri dengan fisik saya yang cacat, tapi saya tidak menyerah, saya akan menjalani hidup seperti orang-orang normal,” ujarnya.
Ia mengakui perjalanan merintis usaha tidak selalu mulus. “Saya sempat mengalami berbagai masa sulit dalam merintis usaha, hingga saya menerima tawaran menjahit di Papua khusus mengerjakan jas dan basofi,” kata Jumadi.
Berbekal semangat baja dan tekad kuat, Jumadi bercita-cita hidup layaknya orang pada umumnya, termasuk membangun keluarga dan memiliki keturunan yang sehat. Selama dua tahun bekerja sebagai buruh jahit di Papua, ia menyisihkan penghasilan sebagai modal, lalu pulang ke kampung halamannya di Desa Tanggulangin.
Sepulang dari perantauan, keuletan dan kepekaannya membaca peluang di lingkungan sekitar membuahkan hasil. Melalui jaringan pertemanan, Jumadi berhasil menggandeng sejumlah relasi, terutama pemesan seragam anak sekolah dan konsumen lainnya. Kini ia mampu melayani berbagai model dan motif sesuai permintaan pelanggan. Bersama Karsi, ia membesarkan seorang putri yang tumbuh normal, dan dari hasil menjahit, pasangan ini berhasil mendirikan rumah sendiri hanya bermodalkan tekad dan keterampilan.
Kisah Jumadi menjadi cerminan bahwa penyandang disabilitas mampu bersaing dan tidak kalah dengan masyarakat pada umumnya. Dengan kerja keras, ia terus berjuang demi menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #Disabilitas, #PenjahitInspiratif, #Wonogiri, #Jatisrono, #Jasmadi, #KisahInspiratif, #UsahaMandiri, #PantangMenyerah,
