RI News Portal. Kabupaten Tegal, 30 Desember 2025 – Di era persaingan bisnis kuliner yang semakin sengit, di mana makanan cepat saji dan tren internasional mendominasi pasar, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Tegal terus menunjukkan resiliensi yang mengesankan. Salah satu contoh nyata adalah seorang warga Pekiringan, Kecamatan Talang, yang menggabungkan profesi utamanya di bidang informasi dengan usaha rumahan memproduksi tahu aci khas Banjaran – camilan tradisional yang telah menjadi identitas kuliner daerah ini.
Pada Senin, 29 Desember 2025, pelaku usaha tersebut melakukan pendekatan pemasaran langsung dengan mengunjungi sejumlah kantor pemerintahan desa di wilayah Kabupaten Tegal. Strategi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan volume penjualan, tetapi juga sebagai upaya strategis untuk merevitalisasi apresiasi masyarakat terhadap produk kuliner lokal di tengah gempuran makanan modern.
Tahu aci, yang sering disebut sebagai varian goreng dari tradisi pepes tahu lokal, merupakan warisan kuliner yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Tegal. Dibuat dari tahu kuning berkualitas yang diiris tipis, diisi dengan adonan tepung tapioka (aci) yang dicampur bumbu rempah sederhana seperti bawang putih, ketumbar, dan daun kucai, kemudian digoreng hingga mencapai tekstur renyah di luar dan kenyal lembut di dalam. Proses produksi yang rumahan dan mandiri ini menekankan pada kebersihan serta autentisitas rasa, menjadikannya favorit lintas generasi.

Pelaku usaha ini, yang berlatar belakang di sektor informasi, memanfaatkan pengalamannya dalam komunikasi untuk membangun jaringan langsung dengan komunitas. Dengan mendatangi pusat-pusat aktivitas desa, ia tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membangun narasi tentang pentingnya mendukung ekonomi lokal. “Produk ini bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari identitas kita. Saya ingin generasi muda kembali menghargai dan mengonsumsi kuliner warisan ini, sekaligus berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi warga sekitar,” ujarnya.
Respons dari aparatur desa dan masyarakat sekitar sangat positif. Beberapa kepala desa yang dikunjungi menyambut inisiatif ini sebagai model kemandirian yang inspiratif. “Kehadiran pelaku UMKM seperti ini memperkaya interaksi kami dengan masyarakat. Produk lokal semacam ini perlu terus didorong agar tetap kompetitif dan lestari,” kata salah seorang pejabat desa.
Masyarakat pun menunjukkan antusiasme serupa. Seorang warga bernama Andi menyatakan dukungannya terhadap produk tradisional yang unik dan lezat ini. Sementara itu, Ibu Rani mengungkapkan minatnya untuk mencoba, bahkan menyarankan pengembangan variasi rasa guna menarik lebih banyak konsumen.
Kegiatan ini juga membuka ruang silaturahmi yang lebih luas antara pelaku usaha dan pemerintahan tingkat desa, menciptakan potensi sinergi untuk pengembangan ekosistem UMKM. Dalam konteks lebih luas, inisiatif semacam ini mencerminkan bagaimana pelaku UMKM di daerah dapat beradaptasi dengan memadukan keterampilan lintas sektor – seperti komunikasi dan pemasaran langsung – untuk menghadapi tantangan globalisasi kuliner.
Dengan optimisme yang tinggi, pelaku usaha ini percaya bahwa langkah-langkah kecil seperti promosi door-to-door dapat memberikan dampak signifikan bagi pelestarian kuliner tradisional Tegal. “Selama ada komitmen untuk terus berinovasi dan memperkenalkan produk lokal, UMKM kita akan tetap berkembang dan menjadi pilar ekonomi daerah,” tutupnya.
Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya kuliner tidak hanya bergantung pada dukungan pemerintah, tetapi juga pada kreativitas dan ketekunan individu di tingkat akar rumput.
Pewarta : Ikhwanudin

