RI News Portal. Karachi – Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, menegaskan komitmen kuat kedua negara untuk terus mengembangkan perdagangan minyak sawit sebagai elemen strategis dalam hubungan ekonomi jangka panjang. Dalam kunjungan kerjanya ke Karachi pada awal Januari 2026, Roro menyatakan bahwa Pakistan tetap menjadi salah satu pasar prioritas ekspor minyak sawit Indonesia, dengan posisi ketiga secara global.
Menurut catatan pemerintah Indonesia, selama lima tahun terakhir, nilai ekspor minyak sawit ke Pakistan menunjukkan pertumbuhan rata-rata sekitar delapan persen per tahun. Angka ini mencerminkan ketergantungan yang konsisten dari Pakistan terhadap pasokan dari Indonesia, di mana Indonesia memenuhi 85-89 persen dari total kebutuhan impor minyak sawit negara tersebut selama bertahun-tahun. “Kondisi ini menjadikan Pakistan mitra yang sangat penting bagi kami, sekaligus memperkuat posisi minyak sawit sebagai fondasi hubungan dagang yang berkelanjutan antara kedua negara,” ujar Roro dalam pernyataannya di Karachi pada Minggu, 11 Januari 2026.
Langkah penguatan ini merupakan kelanjutan langsung dari kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia ke Pakistan pada Desember 2025. Pertemuan tingkat tinggi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama untuk meningkatkan Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang ditargetkan rampung pada 2027. Proses ini diharapkan membuka akses lebih luas tidak hanya pada komoditas minyak sawit, tetapi juga sektor perdagangan, jasa, serta investasi secara komprehensif.

Roro menekankan bahwa mekanisme PTA yang ada saat ini telah terbukti mendorong pertumbuhan perdagangan bilateral yang signifikan. “Minyak sawit bukan sekadar komoditas perdagangan biasa. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan perekonomian, memperkuat industri pangan, dan mempererat ikatan antarmasyarakat di kedua negara,” tambahnya.
Dari sisi kebijakan domestik, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa program biodiesel nasional, termasuk implementasi B50, tidak akan mengganggu komitmen ekspor ke Pakistan. “Kami menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dalam negeri dan kepentingan mitra dagang strategis. Pasokan ke Pakistan tetap menjadi prioritas,” jelas Roro.
Selain itu, Indonesia terus memperkuat tata kelola keberlanjutan industri sawit melalui sistem sertifikasi dan ketertelusuran yang lebih baik. Upaya ini diyakini dapat meningkatkan kepercayaan pasar Pakistan terhadap kualitas dan keandalan pasokan minyak sawit dari Indonesia.
Baca juga : Sinkhole di Limapuluh Kota: Kajian Geologi Ungkap Potensi Risiko Amblas dan Imbauan Darurat untuk Warga
Di pihak Pakistan, Menteri Perdagangan Jam Kamal Khan menyambut baik penguatan kerja sama ini. Ia menilai Indonesia sebagai mitra strategis utama dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati nasional, yang mendominasi konsumsi edible oil di Pakistan. “Kami menginginkan hubungan yang semakin erat dan saling menguntungkan. Harapan kami, kemudahan berbisnis dengan Indonesia akan terus terbuka lebar ke depan,” kata Khan.
Dengan momentum ini, kedua negara diharapkan dapat mewujudkan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat luas, sekaligus memperkokoh posisi minyak sawit sebagai instrumen diplomasi ekonomi yang efektif di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kerja sama ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang diversifikasi perdagangan di masa depan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

