RI News Portal. Bangun Pane, Dolog Masagal 8 Desember 2025 – Di tengah intensitas hujan yang kian tinggi sepanjang awal Desember 2025, warga Nagori Bangun Pane, Kecamatan Dolog Masagal, Kabupaten Simalungun, kembali memperlihatkan kekuatan tradisi gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat pedesaan Sumatra Utara. Pada Senin, 8 Desember 2025, ratusan meter bahu jalan lintas antarkecamatan yang menghubungkan Dolog Masagal dengan Kecamatan Raya berhasil dibersihkan dari tumpukan rumput liar dan endapan lumpur hanya dalam waktu beberapa jam berkat kerja sama antara aparat TNI, perangkat nagori, dan masyarakat setempat.
Inisiatif ini dipimpin langsung oleh Babinsa Koramil 14/Raya, Serma JS. Purba, melalui kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) yang diintegrasikan dengan aksi nyata gotong royong. Jalan yang menjadi urat nadi transportasi warga tersebut sebelumnya mulai menyempit akibat vegetasi liar dan sedimentasi tanah yang terbawa aliran air hujan, berpotensi menciptakan genangan permanen bila dibiarkan.
“Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi banjir bandang atau longsor kecil seperti yang pernah dialami beberapa nagori tetangga tahun lalu,” ungkap Serma JS. Purba di sela-sela kegiatan. “Babinsa hadir bukan sekadar simbol keamanan, tapi juga sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat. Membersihkan bahu jalan bersama adalah wujud konkret pencegahan bencana di tingkat paling dasar.”

Antusiasme warga terlihat sejak pagi buta. Tanpa mobilisasi formal, puluhan lelaki, perempuan, hingga remaja secara spontan membawa cangkul, parang, dan keranjang rotan. Mereka membentuk barisan panjang di kedua sisi jalan, membersihkan rumput setinggi lutut orang dewasa dan mengangkut tanah basah ke pinggir parit. Tawa dan canda tetap mengalir meski keringat hujan gerimis sesekali mengguyur.
Salah seorang tokoh masyarakat Bangun Pane, yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa kehadiran Babinsa dalam kegiatan semacam ini telah mengubah pola pikir generasi muda setempat. “Dulu anak-anak lebih suka main HP di rumah saat hujan. Sekarang mereka ikut turun karena malu kalau Babinsa saja yang capek. Ini pendidikan karakter yang tak bisa diajarkan di bangku sekolah,” ujarnya sambil tersenyum.
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam itu berhasil membersihkan lebih dari satu kilometer bahu jalan, membuka kembali saluran drainase alami, dan mengurangi risiko genangan yang selama ini kerap memaksa pengendara motor melaju zig-zag di tengah jalan berlubang.
Baca juga : ‘Wasiat Warisan’: Drama Keluarga Batak Toba yang Menggugat Makna Warisan di Tengah Danau Toba
Lebih dari sekadar membersihkan fisik jalan, momen ini kembali mengukuhkan bahwa di tengah gempuran modernitas dan individualisme perkotaan, semangat “satu tungku tiga batu” khas Batak Simalungun masih hidup kuat di pedesaan. Gotong royong bukan lagi hanya seremoni tahunan menjelang perayaan adat, melainkan menjadi mekanisme adaptasi kolektif menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
Di akhir kegiatan, Serma JS. Purba dan perangkat nagori bersepakat untuk menjadwalkan pembersihan serupa setiap dua minggu sekali selama puncak musim hujan. Langkah kecil yang, jika konsisten dilakukan di ribuan nagori lain di Indonesia, dapat menjadi benteng terdepan mitigasi bencana berbiaya rendah namun berdaya guna tinggi.
Nagori Bangun Pane, dengan segala keterbatasannya, kembali membuktikan: solidaritas bukanlah kata mati dalam kamus masyarakat desa.
Pewarta: Jhon Sinaga

