RI News. Dubai, United Arab Emirates — Konflik yang meletus pada akhir Februari 2026 antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memasuki fase kritis pada pekan kedua. Serangan balasan Teheran tidak lagi terbatas pada wilayah Israel, melainkan meluas ke negara-negara Teluk, menciptakan ancaman langsung terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Pada 10 Maret, otoritas Bahrain melaporkan serangan drone Iran menghantam kawasan pemukiman di Manama, menewaskan satu warga sipil dan melukai beberapa lainnya. Arab Saudi berhasil mencegat drone di wilayah timur yang kaya minyak, sementara Kuwait mengklaim menembak jatuh enam unit tak berawak. Di Uni Emirat Arab, kebakaran melanda zona industri Ruwais—pusat petrokimia penting—akibat serangan drone, meski tanpa korban jiwa. Di sisi lain, sirene peringatan meraung di Yerusalem dan Tel Aviv saat sistem pertahanan udara Israel berupaya menghalau rentetan rudal dan drone dari Iran.
Dari perspektif militer, pernyataan Menteri Pertahanan AS menandai hari itu sebagai puncak intensitas serangan koalisi: jumlah pesawat tempur dan bomber terbanyak, didukung intelijen yang semakin akurat. Target utama mencakup penghancuran kemampuan rudal balistik dan drone Iran, pelemahan angkatan laut untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, serta penetrasi lebih dalam ke infrastruktur militer dan industri Teheran. Data lapangan menunjukkan lebih dari ribuan target telah dihantam sejak awal operasi.

Di pihak Iran, retorika tetap tegas. Pimpinan parlemen menyatakan bahwa Teheran tidak mencari gencatan senjata, melainkan ingin memberikan “pelajaran keras” kepada pihak yang dianggap sebagai agresor. Ancaman serupa muncul dari pejabat senior lain, menegaskan ketahanan rezim meski menghadapi tekanan luar biasa. Iran juga mengklaim telah menekan volume peluncuran rudal dalam 24 jam terakhir—sebuah indikasi kemungkinan degradasi kapasitas akibat serangan balik koalisi.
Dimensi paling mengkhawatirkan adalah gangguan di Selat Hormuz. Jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia kini nyaris lumpuh. Iran secara efektif menghentikan lalu lintas kapal tanker melalui ancaman serangan dan aksi langsung terhadap kapal dagang. Beberapa insiden telah menewaskan pelaut, sementara kapten kapal melaporkan ledakan di dekat perairan UAE. Akibatnya, harga minyak Brent sempat melonjak mendekati $120 per barel sebelum stabil di kisaran $90—kenaikan hampir seperempat sejak konflik dimulai.
Perusahaan minyak besar di kawasan Teluk mengalihkan rute tanker dan memaksimalkan kapasitas pipa alternatif menuju Laut Merah. Namun, analis memperingatkan bahwa pasokan yang semakin ketat berpotensi mendorong harga energi global lebih tinggi lagi, memicu inflasi bahan bakar dan gangguan rantai pasok dunia. Dampak jangka panjang bisa meluas ke ekonomi global jika krisis berlarut.
Baca juga : Wakapolda DIY Tinjau Langsung Kesiapan Tol Purwomartani, Antisipasi Lonjakan Pemudik Lebaran 2026
Secara paralel, front Lebanon tetap panas. Israel melancarkan serangan intensif terhadap Hizbullah, yang membalas dengan rudal ke wilayah utara Israel. Milisi pro-Iran di Irak juga aktif menyerang basis AS. Korban jiwa terus bertambah: lebih dari seribu di Iran, ratusan di Lebanon, serta korban di Israel dan personel militer AS.
Di tengah eskalasi ini, muncul sinyal kemanusiaan kecil namun bermakna: lima pemain sepak bola wanita Iran yang sedang bertanding di Australia memperoleh suaka setelah turnamen mereka berakhir. Keputusan ini mencerminkan ketegangan antara solidaritas internasional dan realitas geopolitik yang semakin rumit.
Konflik ini bukan sekadar pertarungan militer bilateral, melainkan ujian bagi arsitektur keamanan Timur Tengah dan ketahanan pasar energi global. Dengan Selat Hormuz sebagai titik rawan utama, dunia kini menanti apakah tekanan ekonomi yang dihasilkan akan memaksa de-eskalasi atau justru memperpanjang spiral kekerasan yang merugikan semua pihak.
Pewarta : Setiawan Wibisono

