RI News Portal, Brebes – Di tengah lumpur yang masih mengering di jalan-jalan desa, puluhan ibu rumah tangga di Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, melangkah tegar Jumat pagi (30/1/2026). Mereka bukan sekadar berjalan; mereka membawa suara keprihatinan mendalam atas banjir bandang yang kembali menerjang wilayah lereng Gunung Slamet hanya seminggu sebelumnya.
Dengan nama gerakan “Emak Bergerak”, para perempuan ini berangkat dari balai desa sekitar pukul 09.00 WIB, menyusuri jalan berbatu menuju titik-titik rawan banjir. Aksi moral itu diwarnai pembentangan belasan spanduk bertuliskan tuntutan tegas: hentikan perusakan hutan, tegakkan hukum bagi pelaku penebangan liar, dan prioritaskan pemulihan lingkungan daripada sekadar penanganan darurat pascabencana.
Banjir bandang akhir Januari lalu telah menyisakan trauma berat bagi warga lereng selatan Gunung Slamet. Di Kecamatan Bumiayu saja, luapan Kali Keruh dan Kali Reong menghanyutkan belasan rumah, merusak infrastruktur jalan, serta memaksa ratusan jiwa mengungsi. Material lumpur dan kayu gelondongan yang terbawa arus menjadi saksi bisu betapa parahnya degradasi hutan di hulu.

Para emak-emak menegaskan, bencana berulang ini bukan semata murka alam. “Hutan lindung yang dulu menjadi tameng kini gundul karena tangan-tangan tak bertanggung jawab. Akar pohon hilang, air hujan langsung mengalir deras membawa tanah dan batu,” ujar salah seorang peserta, suaranya parau menahan emosi. Ia menambahkan, dampak paling berat selalu dirasakan oleh anak-anak dan keluarga mereka yang tinggal di garis depan bahaya.
Spanduk-spanduk itu tak hanya dipasang di Desa Adisana. Beberapa dibawa untuk ditempatkan di titik rawan lain di Kecamatan Bumiayu, Sirampog, dan Paguyangan. Gerakan ini dirancang agar menjalar, menggugah ibu-ibu di desa-desa tetangga agar bersuara serupa. Mereka percaya, suara kolektif para perempuan—yang biasanya menjadi garda terdepan menyelamatkan keluarga saat banjir datang—dapat menjadi kekuatan yang tak terabaikan.
Baca juga : Pemerintah Kota Subulussalam Kini Terbebani Utang Rp367 Miliar, Wali Kota Janji Lunasi 2027 atau Siap Mundur
Dalam orasi singkat di lokasi terdampak, mereka mendesak pemerintah daerah dan aparat hukum untuk bertindak lebih dari sekadar membersihkan lumpur. Penegakan hukum terhadap pelaku eksploitasi hutan ilegal dinilai sebagai langkah krusial guna memutus rantai bencana. “Jangan tunggu rumah kami hanyut lagi, anak-anak kami kehilangan masa depan. Lindungi hutan sekarang, selamatkan kami selamanya,” seru salah satu koordinator aksi.
Aksi “Emak Bergerak” mencerminkan pergeseran paradigma: dari korban pasif menjadi agen perubahan. Di lereng Gunung Slamet yang dulu hijau rindang, kini muncul harapan baru dari langkah kaki para ibu. Mereka tak meminta belas kasihan, melainkan keadilan ekologis—agar alam kembali bernapas, dan kehidupan di bawahnya kembali aman.
Jeritan hati para emak ini kini bergema, menanti respons nyata dari pemangku kebijakan. Karena bagi mereka, banjir bukan akhir cerita; ia adalah panggilan untuk bertindak sebelum terlambat.
Pewarta: Ikhwanudin

