RI News. Pariaman – Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti Mushala Lapas Kelas II B Pariaman kemarin, ketika 22 warga binaan pemasyarakatan (WBP) menerima ijazah Paket A, B, dan C secara langsung dari Wali Kota Pariaman, Yota Balad. Acara ini bukan sekadar penyerahan dokumen pendidikan, melainkan simbol nyata bahwa pembinaan di balik tembok penjara dapat menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Yota Balad menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kepala Lapas Kelas II B Pariaman beserta jajaran, serta Dinas Pendidikan Kota Pariaman atas kolaborasi yang telah berjalan sejak 2023. Menurutnya, program integrasi pendidikan di lingkungan lapas merupakan investasi kemanusiaan yang sangat berharga.
“Pendidikan adalah hak segala bangsa, tanpa memandang status sosial maupun kondisi seseorang. Saya secara pribadi merasa sangat bangga dan terharu melihat semangat saudara-saudara sekalian dalam menyelesaikan jenjang pendidikan meski berada dalam masa pembinaan,” ujar Yota Balad dengan suara penuh emosi.

Ia menekankan bahwa ijazah yang diterima bukan sekadar lembaran kertas, melainkan bukti bahwa jeruji besi tidak menjadi penghalang untuk tetap produktif dan menimba ilmu. Pemerintah Kota Pariaman, lanjutnya, berkomitmen menjadikan pendidikan sebagai hak dasar setiap warga negara tanpa terkecuali. Kerja sama ini diharapkan memberikan bekal akademis dan keterampilan yang sah, sehingga ketika para warga binaan kembali ke masyarakat, mereka mampu mencari nafkah dan membangun kehidupan yang lebih baik.
“Keberhasilan ini menunjukkan kuatnya koordinasi dalam memberikan layanan pendidikan inklusif di Kota Pariaman. Pendidikan kesetaraan sangat membantu proses rehabilitasi dan meningkatkan rasa percaya diri para warga binaan untuk menata masa depan yang lebih cerah,” tambahnya.
Data dari Lapas Kelas II B Pariaman mencatat bahwa sejak 2023 hingga 2025, sebanyak 66 warga binaan telah berhasil lulus program pendidikan kesetaraan. Pada 2026 ini, tercatat 47 orang lainnya sedang menempuh proses pembelajaran yang sama.
Yota Balad juga menyampaikan pesan motivasi kepada para lulusan dan mereka yang masih belajar. “Selamat kepada seluruh lulusan Paket A, B, dan C. Teruslah belajar, karena belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Semoga ilmu yang didapatkan menjadi berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Kepada yang masih belajar, teruslah bersemangat. Ingat pepatah: tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat.”
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas II B Pariaman, Boy Irfan Arslan, turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kota Pariaman atas dukungan yang konsisten. Ia menyebut program ini sebagai wujud nyata dari konsep restorative justice dan reintegrasi sosial, di mana negara hadir tidak hanya untuk menghukum, tetapi juga untuk membina.

“Tembok penjara boleh membatasi gerak fisik, tetapi tidak boleh membatasi masa depan seseorang. Hari ini adalah bukti bahwa kerja keras dan niat untuk berubah membuahkan hasil nyata. Ijazah ini adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik. Jangan pernah merasa malu dengan masa lalu. Jadikan ini modal untuk kembali ke masyarakat dengan kepala tegak, menjadi pribadi mandiri, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” pesan Boy Irfan Arslan kepada para warga binaan.
Program pendidikan kesetaraan di Lapas Kelas II B Pariaman ini menjadi contoh bagaimana sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga pemasyarakatan dapat menghadirkan pendidikan yang benar-benar inklusif. Di tengah berbagai tantangan pembinaan, inisiatif ini membuktikan bahwa perubahan positif tetap mungkin terjadi, asal ada komitmen bersama untuk memanusiakan manusia.
Pewarta : Jum Aini

