RI News Portal. Jakarta, 6 Januari 2026 – Dalam lanskap perfilman Indonesia yang semakin berani menyoroti isu sosial kontemporer, film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) muncul sebagai karya yang tidak hanya menghibur melalui genre drama komedi, tetapi juga menyampaikan kritik mendalam terhadap konstruksi kecantikan dan budaya konsumtif di era digital. Disutradarai oleh Surya Ardy Octaviand, yang juga berperan sebagai produser bersama Sunar S. Samtani, film ini menandai debut layar lebar bagi Scovi Films bekerja sama dengan RAPI Films. Dijadwalkan tayang serentak di bioskop nasional pada 5 Februari 2026, CAPER menghadirkan narasi segar yang terinspirasi dari fenomena pinjaman online (pinjol) dan tekanan citra diri di masyarakat urban.
Aktris Amanda Manopo, yang memerankan karakter utama Tina – seorang mantan pemenang kontes kecantikan lokal “Senyum Manis Putri Depok” – menekankan bahwa pemilihan dirinya untuk peran ini tidak didasarkan pada parameter fisik konvensional. “Untuk perempuan, kecantikan sejati meliputi paras, keanggunan, dan sikap yang autentik, bukan semata tinggi badan atau berat tubuh,” ungkap Manopo usai acara peluncuran poster dan trailer di Jakarta. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan film dalam mendekonstruksi standar kecantikan yang sering kali reduktif dan eksklusif, di mana postur tubuh menjadi ukuran utama nilai seorang wanita.

Karakter Tina digambarkan sebagai sosok yang tampak sempurna di permukaan: berparas menarik dengan mahkota dan selempang kontes kecantikan yang menjadi ikon visual dalam poster resmi. Namun, di balik fasad itu, Tina rapuh secara emosional dan finansial. Ia bergulat dengan pengelolaan emosi yang lemah serta godaan belanja impulsif yang membawanya terjerat utang pinjol. Preparasi Manopo untuk peran ini melibatkan latihan intensif dalam menampilkan “senyum manis” khas pemenang kontes, sambil menyoroti bahwa kecantikan tidak bergantung pada dimensi fisik, melainkan pada kompleksitas manusiawi yang mencakup kekurangan.
Melalui pendekatan jenaka, CAPER meruntuhkan persepsi awal tentang kesempurnaan Tina, sekaligus menyiratkan pesan kritis terhadap budaya pamer citra ideal di ruang publik digital. Film ini berposisi sebagai antitesis terhadap perilaku konsumtif yang dipicu oleh dorongan pengakuan sosial, di mana individu memaksakan diri demi validasi eksternal, sering kali mengorbankan kesejahteraan finansial dan mental. Manopo berharap penonton dapat menangkap esensi ini: pentingnya mencintai diri apa adanya, tanpa tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang tidak realistis.
Baca juga : Pengungkapan Kasus Pencurian Kabel Listrik yang Mengganggu Pasokan Energi di Ibu Kota
Narasi CAPER semakin diperkaya dengan dinamika keluarga, di mana Tina hidup bersama adiknya, Umski (diperankan Fajar Sadboy), dan nenek mereka, Oma Grace (Merry Sanger). Chemistry unik antara Manopo dan Sadboy, yang sebelumnya sukses mencuri perhatian, kembali dieksplorasi dalam perspektif baru sebagai kakak-beradik yang saling bergantung di tengah krisis. Trailer resmi menampilkan adegan Tina dikejar tagihan utang, sementara poster menonjolkan transformasi visual para pemeran, termasuk penampilan eksentrik Devano Danendra sebagai Mail dengan rambut poni lempar dan kacamata berbingkai besar.
Naskah film ini ditulis oleh Octaviand bersama Widya Arifianti, penerima Piala Citra Festival Film Indonesia 2025, yang berhasil menggabungkan humor ringan dengan komentar sosial tajam. Selain trio utama, CAPER dibintangi oleh deretan aktor berbakat seperti Jovial Da Lopez, Sastra Silalahi, Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Richard Derrick, dan Martin Carter.

Sebagai karya yang berdiri sendiri meski terinspirasi dari tema serupa di produksi sebelumnya, CAPER merepresentasikan evolusi perfilman Indonesia dalam mengaddress isu generasi muda: dari konsumerisme Gen Z hingga dampak psikologis standar kecantikan yang kaku. Dengan pendekatan naratif yang inklusif dan reflektif, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak refleksi kolektif tentang penerimaan diri di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh citra digital. Penayangan perdananya di awal Februari mendatang diharapkan menjadi katalis diskusi lebih luas mengenai isu-isu tersebut.
Pewarta : Vie

