RI News. Banda Aceh – Ketegangan yang sempat merenggangkan hubungan antara Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi dan Wakil Bupati Hasan Basri berhasil diatasi dengan cepat berkat intervensi Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fad. Langkah proaktif pejabat nomor dua di provinsi ini menjadi contoh nyata bagaimana kepemimpinan tingkat provinsi dapat menjadi perekat soliditas pemerintahan daerah.
Dek Fad langsung turun tangan dengan menggelar serangkaian pertemuan intensif. Pada Rabu (1 April), ia lebih dulu bertemu secara pribadi dengan Wakil Bupati Hasan Basri di ruang kerjanya. Keesokan harinya, Kamis (2 April), kedua pimpinan daerah tersebut dipertemukan kembali di rumah dinas Wakil Gubernur Aceh. Suasana yang hangat dan kekeluargaan menjadi ciri khas pertemuan tersebut, hingga akhirnya tercapai kesepakatan islah atau perdamaian di antara mereka.
Rumah dinas Wakil Gubernur Aceh menjadi saksi bisu proses pemulihan hubungan tersebut. “Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam memulihkan kembali keharmonisan kepemimpinan di Kabupaten Pidie Jaya demi kepentingan masyarakat,” ujar Dek Fad seusai pertemuan.

Proses islah itu turut disaksikan sejumlah tokoh penting daerah, di antaranya Abiya, Waled Kiran, serta Ketua DPRK Pidie Jaya. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan simbol dukungan moral yang kuat terhadap upaya mempererat kebersamaan dan soliditas pemerintahan daerah di Pidie Jaya.
Menurut Dek Fad, pertemuan tersebut berhasil menghadirkan ruang dialog yang menyejukkan. Perbedaan pandangan yang sempat mencuat dapat diselesaikan secara bijaksana, penuh kekeluargaan, dan berorientasi pada kepentingan bersama. Ia menekankan bahwa keharmonisan antara bupati dan wakil bupati merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas pemerintahan.
“Semangat persaudaraan dan kebersamaan harus tetap menjadi pondasi dalam menjalankan roda pemerintahan. Saya berharap pertemuan ini menjadi titik awal baru bagi kepemimpinan Kabupaten Pidie Jaya untuk kembali bersatu padu dan melangkah bersama membangun daerah yang lebih maju,” tambahnya.
Langkah cepat Dek Fad ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah provinsi dalam menjaga kestabilan daerah otonom. Dengan kondisi pemerintahan yang harmonis, pelayanan publik kepada masyarakat Pidie Jaya diharapkan dapat berjalan lebih optimal, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan.
Peristiwa ini juga menjadi pelajaran berharga bahwa perbedaan pendapat dalam kepemimpinan bukanlah akhir, melainkan dapat dijembatani melalui pendekatan dialogis dan kebijaksanaan para pemimpin. Bagi masyarakat Pidie Jaya, kembalinya harmoni di pucuk pimpinan daerah diharapkan membawa angin segar bagi percepatan program-program pembangunan yang telah direncanakan.
Dengan demikian, peran Wakil Gubernur Aceh sebagai mediator yang efektif tidak hanya menyelesaikan persoalan sesaat, tetapi juga memperkuat fondasi kepemimpinan daerah yang berbasis pada nilai-nilai persatuan dan gotong royong khas Aceh.
Pewarta : Jaulim Saran

