RI News Portal. Bandung – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyerukan kesiapsiagaan maksimal seluruh aparatur Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang kian nyata di tengah perubahan iklim global. Pernyataan tegas itu disampaikan Farhan pada Senin, 26 Januari 2026, menyusul tragedi tanah longsor dahsyat di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menewaskan belasan jiwa dan menghancurkan puluhan rumah warga.
Farhan menekankan bahwa cuaca ekstrem bukan lagi sekadar fenomena alam yang bisa disalahkan begitu saja. “Kita tidak boleh menyalahkan cuaca. Kita harus menyalahkan diri sendiri apabila tidak mampu mengantisipasi dampak dari cuaca ekstrem tersebut,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia menjadikan peristiwa longsor di wilayah Cisarua, KBB, yang terjadi pada Sabtu dini hari 24 Januari 2026, sebagai pengingat keras. Bencana tersebut—dipicu curah hujan ekstrem—telah menelan korban jiwa hingga 17 orang (berdasarkan data terakhir BNPB) dan menjadi alarm bagi Kota Bandung untuk segera memperkuat mitigasi dini serta penanganan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.

Farhan juga menggarisbawahi kerentanan lingkungan di kawasan utara kota, di mana tutupan hutan semakin menyusut dari sisi barat hingga timur. Kondisi ini memperbesar risiko banjir, longsor, serta gangguan ekosistem lain, khususnya ketika intensitas hujan meningkat tajam. “Kerusakan lingkungan ini tidak bisa kita anggap sepele. Jika tidak segera ditangani secara serius, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, Wali Kota memberikan apresiasi tinggi kepada Dinas Sosial (Dinsos), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung. Ketiga instansi itu dinilai telah menunjukkan respons cepat dalam mendukung penanganan darurat, termasuk penyaluran bantuan ke wilayah terdampak di sekitar Bandung Raya.
“Gerak cepat ini harus menjadi standar kerja kita. Jangan menunggu viral atau sorotan publik baru kita bergerak,” imbuh Farhan.
Baca juga : Wabup Yusman Zega Pimpin Upacara Bendera: Ajak ASN Berinovasi dan Waspadai Ancaman Kebakaran di Awal 2026
Ia menegaskan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam mengatasi ancaman cuaca ekstrem. Langkah-langkah yang harus diperkuat meliputi perencanaan tata ruang wilayah yang lebih adaptif, perbaikan infrastruktur dan sistem drainase, peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat agar lebih waspada dan mandiri menghadapi potensi bahaya.
Dengan koordinasi yang solid serta komitmen preventif yang konsisten, Farhan optimistis dampak cuaca ekstrem di Kota Bandung dapat ditekan seminimal mungkin. “Dampak cuaca ekstrem di Kota Bandung dapat diminimalkan, sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan warga,” tandasnya.
Pernyataan ini mencerminkan urgensi bagi pemerintahan daerah untuk beralih dari respons reaktif menuju strategi proaktif dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.
Pewarta : Mukhlis

