RI News. Yogyakarta – Di balik gemerlap upacara penobatan seorang sultan, terdapat sebuah artefak pusaka yang sarat makna historis dan spiritual. Bintang pusaka Kasultanan Yogyakarta, sebuah lambang berbentuk bintang bersudut delapan yang terbuat dari intan berlian, menjadi penanda utama pewarisan tahta Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa.
Bintang ini pertama kali disematkan pada masa Sultan Hamengkubuwono IV, yang naik tahta di usia sangat muda. Sejak saat itu, tradisi tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap prosesi kenaikan takhta penguasa Kesultanan Yogyakarta. Di tengah bintang yang berkilauan itu, terdapat latar belakang logo Kraton Yogyakarta yang ditulis dalam aksara Jawa dengan bunyi “Ha Ba”, singkatan dari Hamengku Buwana, mencerminkan identitas dan keberlanjutan dinasti.
Tradisi ini kembali tercatat dalam sejarah ketika Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Selasa Wage, 29 Rejeb tahun Wawu 1921 dalam penanggalan Jawa, atau bertepatan dengan 7 Maret 1989 Masehi. Saat itu, yang berkenan menyematkan Bintang Pusaka di dada sang calon sultan adalah Gusti Bandoro Pangeran Haryo Puruboyo—paman dari Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri. Penyematan itu bukan sekadar ritual formal, melainkan bentuk legitimasi langsung dari sesepuh keraton, yang meneguhkan kelangsungan garis keturunan Mataram di tengah dinamika zaman.

Kini, di usia yang ke-80 tahun, Sri Sultan Hamengkubuwono X terus menjadi penjaga utama warisan budaya tersebut. Lahir pada 2 April 1946, sultan yang juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ini telah memimpin selama lebih dari tiga dekade. Di tengah derap perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang semakin cepat, peran beliau sebagai pemimpin keraton dan pemerintahan daerah menjadi semakin krusial.
Banyak kalangan masyarakat Yogyakarta dan pecinta budaya Jawa menyampaikan doa dan ucapan selamat. “Ndherek ngaturaken sugeng ambal yuswo ingkang kaping 80 warso, Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X,” ujar salah satu ungkapan yang kerap terdengar dalam berbagai kegiatan mangayubagya atau perayaan syukur. Harapan yang sama mengalir: semoga Sri Sultan senantiasa dikaruniai kesehatan, keberkahan, serta kekuatan untuk terus meneguhkan nilai-nilai budaya Mataram, memimpin DIY menghadapi berbagai tantangan zaman, sekaligus menjaga persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bintang pusaka berlian itu, dengan segala kilauannya, bukan hanya perhiasan keraton. Ia menjadi metafor keberlanjutan: cahaya yang tetap bersinar meski zaman terus bergulir, menghubungkan masa lalu Kerajaan Mataram dengan realitas kekinian Yogyakarta yang dinamis. Di balik setiap sudut delapannya, tersimpan pesan tentang tanggung jawab seorang pemimpin untuk menjaga akar sejarah tanpa kehilangan relevansi di masa depan.
Pada momentum ulang tahun ke-80 ini, refleksi atas Bintang Pusaka mengingatkan kita semua bahwa legitimasi sebuah kepemimpinan tidak hanya bersandar pada kekuasaan formal, melainkan juga pada keberlanjutan nilai, budaya, dan komitmen terhadap masyarakat yang dipimpinnya.
Pewarta: Lee anno

