RI News Portal. Slawi, 26 Desember 2025 – Kondisi cuaca ekstrem yang melanda perairan Pantai Utara Jawa sejak akhir tahun 2025 telah menyebabkan gelombang tinggi dan angin kencang, sehingga banyak nelayan di Kabupaten Tegal terpaksa menghentikan aktivitas melaut. Fenomena ini, yang dikenal sebagai musim paceklik, diperkirakan berlangsung hingga awal 2026, berdampak signifikan pada pendapatan rumah tangga nelayan yang bergantung pada hasil tangkapan harian.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, pemerintah daerah setempat telah menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada ribuan nelayan terdampak. Pada tahap kedua program ini, sebanyak 1.333 nelayan menerima masing-masing 10 kilogram beras, dengan total distribusi mencapai 13,3 ton. Bantuan ini difokuskan pada nelayan yang belum tercakup pada penyaluran sebelumnya, yang telah menjangkau 1.500 orang pada gelombang pertama.
Penyerahan dilakukan secara simbolis di Balai Latihan Kerja Suradadi pada Jumat pagi (26/12/2025), dihadiri ratusan nelayan dari berbagai kecamatan pesisir. Penerima manfaat tersebar di empat wilayah utama: Suradadi (459 orang), Kramat (541 orang), Warureja (174 orang), dan Kedungbanteng (159 orang). Banyak di antara mereka tampak kelelahan setelah berminggu-minggu tidak dapat melaut, menghadapi risiko tinggi akibat ombak yang mencapai 1,25-2,5 meter di Laut Jawa, sebagaimana diperingatkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bupati Tegal, yang juga menjabat sebagai ketua organisasi nelayan lokal, menyatakan bahwa intervensi ini merupakan komitmen untuk menyediakan jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan yang sangat tergantung pada kondisi alam. “Data kami menunjukkan sekitar 3.000 nelayan aktif di wilayah ini. Musim paceklik kali ini memaksa banyak dari mereka menyandarkan perahu, menyebabkan penurunan drastis pendapatan hingga nol dalam beberapa kasus,” ungkapnya.
Bantuan tahap kedua ini bersumber dari program keberlanjutan penanganan kemiskinan yang melibatkan kolaborasi dengan sektor perbankan daerah, menekankan pendekatan tepat sasaran untuk masyarakat pesisir. Meski bersifat sementara, inisiatif ini diharapkan meringankan beban kebutuhan pokok keluarga nelayan sambil menunggu perbaikan cuaca.
Baca juga : Istighosah Kubro di Masjid Agung Tegal: Momentum Refleksi Spiritual dan Solidaritas Sosial Menyambut 2026
Lebih lanjut, pemerintah daerah berkomitmen pada solusi jangka panjang, termasuk pemberdayaan ekonomi melalui penguatan kelembagaan, peningkatan infrastruktur perikanan, dan diversifikasi penghasilan. Rencana pengembangan kampung nelayan juga disebut sebagai langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan komunitas pesisir terhadap fluktuasi musiman.
Salah seorang nelayan dari Warureja, berusia 47 tahun, menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan tersebut. “Sudah lebih dari seminggu kami tidak berani melaut karena ombak dan angin yang tidak stabil. Bantuan ini sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga,” katanya.
Di tengah prediksi BMKG bahwa kondisi gelombang tinggi masih berpotensi berlanjut hingga Januari-Februari 2026, program bantuan seperti ini menjadi bukti kehadiran negara dalam melindungi mata pencaharian masyarakat pesisir. Harapan bersama adalah agar laut segera kembali kondusif, memungkinkan nelayan kembali beraktivitas dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Pewarta : Ikhwanudin

