RI News Portal. Serang 3 Januari 2026 – Di tengah curah hujan ekstrem yang melanda wilayah Banten awal tahun ini, situs bersejarah Keraton Kaibon di Kasemen, Kota Serang, kembali menjadi korban banjir pada Sabtu, 3 Januari 2026. Luapan air dari Kali Cibanten, yang dipicu oleh hujan deras sejak Jumat sebelumnya, telah merendam kawasan peninggalan Kesultanan Banten ini, menimbulkan kekhawatiran mendalam atas integritas struktural bangunan yang telah berusia lebih dari dua abad. Kejadian ini bukan hanya bencana alam sementara, melainkan sinyal alarm bagi upaya pelestarian warisan budaya di tengah perubahan pola iklim yang semakin tidak terprediksi.
Keraton Kaibon, yang dibangun pada abad ke-18 sebagai kediaman ibu suri Kesultanan Banten, mewakili salah satu peninggalan arsitektur kerajaan Islam di Jawa yang masih bertahan hingga kini. Bangunan ini, dengan elemen desain tradisional Indonesia yang mencerminkan perpaduan budaya lokal dan pengaruh kolonial, pernah menjadi pusat kekuasaan dan simbol kejayaan kesultanan. Namun, lokasinya di dataran rendah dekat sungai membuatnya rentan terhadap banjir berulang, seperti yang tercatat dalam catatan historis sejak era modern. Banjir kali ini, dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa di beberapa area, mengancam fondasi batu dan kayu yang telah rapuh akibat paparan cuaca sebelumnya.

Dari perspektif akademis, insiden ini menggarisbawahi tantangan dalam mengintegrasikan pelestarian situs heritage dengan manajemen risiko bencana. Studi lingkungan menunjukkan bahwa intensitas hujan di wilayah Banten telah meningkat sejak dekade terakhir, sebagian disebabkan oleh faktor antropogenik seperti deforestasi hulu sungai dan urbanisasi yang mengganggu alur drainase alami. Para ahli arkeologi berpendapat bahwa tanpa intervensi struktural, seperti pembangunan tanggul adaptif atau sistem pemantauan digital, situs seperti Keraton Kaibon berisiko mengalami degradasi permanen. Hal ini tidak hanya menghapus jejak sejarah, tetapi juga memengaruhi identitas budaya masyarakat setempat, yang mengandalkan situs ini sebagai sumber pendidikan dan pariwisata berkelanjutan.
Pemerintah daerah telah merespons dengan evakuasi sementara dan pemompaan air, tetapi pendekatan jangka panjang tetap menjadi perdebatan. Analisis hidrologi independen menyarankan bahwa rehabilitasi ekosistem sungai, termasuk penanaman kembali vegetasi riparian, bisa mengurangi frekuensi luapan. Sementara itu, komunitas lokal, termasuk keturunan kesultanan, menekankan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan dan pemangku adat untuk merancang strategi yang menghormati nilai historis situs. Kejadian ini mengingatkan bahwa warisan budaya bukanlah artefak statis, melainkan entitas hidup yang harus dilindungi dari dinamika lingkungan modern.
Dalam konteks lebih luas, banjir di Keraton Kaibon mencerminkan pola global di mana situs-situs bersejarah di negara berkembang semakin terancam oleh peristiwa cuaca ekstrem. Penelitian interdisipliner, yang menggabungkan arkeologi, klimatologi, dan kebijakan publik, menjadi kunci untuk membangun ketahanan. Bagi Banten, ini adalah peluang untuk merevitalisasi narasi sejarahnya, memastikan bahwa Keraton Kaibon tidak hanya bertahan sebagai reruntuhan, tetapi sebagai saksi bisu yang terus menginspirasi generasi mendatang.
Pewarta : Mukhlis

