RI News Portal. Brebes, Jawa Tengah – Hujan deras yang mengguyur sejak Senin siang (2/2/2026) disertai angin kencang kembali mengubah sejumlah ruas jalan protokol dan arteri di kawasan perkotaan Brebes menjadi lautan genangan. Kejadian ini menegaskan pola banjir musiman yang terus berulang, dengan sistem drainase perkotaan yang dinilai gagal menjalankan fungsi dasarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan ketinggian air mencapai 30-50 cm di beberapa titik krusial, termasuk jalur utama menuju pusat pemerintahan dan kawasan komersial. Arus lalu lintas langsung terhambat parah, menciptakan kemacetan panjang yang melumpuhkan mobilitas warga. Banyak pengendara sepeda motor yang nekat menerobos genangan akhirnya harus menyerah; mesin kendaraan mogok total, memaksa mereka mendorong motor ke pinggir jalan atau mencari tempat aman.
Cris, seorang warga yang terdampak langsung, menceritakan pengalamannya dengan nada menyesal. “Saya pikir masih bisa dilewati karena airnya tampak dangkal dari kejauhan. Begitu masuk, mesin langsung mati. Terpaksa dorong motor ratusan meter,” ujarnya sambil membersihkan air dari sepatu boots-nya.

Tidak hanya jalan raya, banjir juga merendam kawasan Alun-alun Brebes—ruang publik yang biasanya menjadi pusat keramaian masyarakat. Kendaraan roda empat maupun dua terlihat bergerak sangat pelan, menghindari risiko mesin terendam lebih dalam. Warga setempat menyebut fenomena ini sudah menjadi bagian dari “ritual” setiap musim hujan intensitas tinggi.
Heri, seorang pedagang di sekitar alun-alun, menyoroti akar masalah yang berulang. “Drainase di sini sudah lama bermasalah. Salurannya tersumbat, kapasitasnya kecil, dan jarang dibersihkan secara rutin. Hujan sedikit saja, langsung banjir,” katanya. Pandangan serupa disampaikan banyak warga, yang menilai kurangnya pemeliharaan infrastruktur menjadi penyebab utama, bukan sekadar curah hujan yang tinggi.
Dampak banjir tidak berhenti di jalanan. Beberapa fasilitas publik vital ikut terendam, termasuk area Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brebes serta sejumlah kantor dinas pemerintahan. Aktivitas pelayanan kesehatan dan administrasi publik terganggu, meski tidak ada laporan korban jiwa. Di RSUD, genangan air mencapai setinggi mata kaki di beberapa lorong dan ruangan pendukung, memaksa petugas berjibaku menjaga operasional tetap berjalan.
Hingga Senin malam, tim gabungan dari pemerintah daerah, BPBD, dan dinas terkait masih melakukan pemantauan intensif di titik-titik rawan. Beberapa unit pompa air dikerahkan untuk mempercepat pengurangan genangan di area paling parah. Pemerintah setempat juga mengeluarkan imbauan agar warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lanjutan, mengingat prakiraan cuaca masih menunjukkan hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Warga diminta menghindari melintasi genangan dalam, tidak memaksakan kendaraan jika air melebihi batas aman, serta segera melaporkan kondisi darurat melalui saluran resmi.
Kasus banjir Senin ini sekali lagi menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur drainase perkotaan Brebes. Tanpa perbaikan sistemik—mulai dari pembersihan rutin, pelebaran saluran, hingga penanganan sampah yang menyumbat—genangan air berulang kemungkinan besar akan terus menghantui kehidupan sehari-hari masyarakat di tengah musim penghujan yang semakin ekstrem.
Pewarta: Ikhwanudin

