RI News. Wonogiri – Suasana pasar oleh-oleh di Wonogiri ramai kembali seusai Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Ribuan perantau yang hendak kembali ke kota-kota besar memadati toko-toko kecil dan kios industri rumahan, membawa pulang berbagai camilan dan makanan khas daerah sebagai buah tangan untuk keluarga serta rekan kerja di perantauan.
Berdasarkan pantauan di kawasan pasar tradisional pada Kamis (26/3/2026), pengunjung silih berganti sejak pagi hingga sore hari. Produk unggulan seperti kacang mete yang gurih renyah, emping melinjo yang renyah khas, ampyang, serta tempe olahan unik seperti tempe mlanding dan tempe benguk dari Jatiroto menjadi buruan utama. Barang-barang ini tidak hanya tahan lama untuk dibawa jauh, tetapi juga merepresentasikan cita rasa lokal yang sulit ditemukan di kota besar.
Purwanti, warga Kecamatan Jatiroto yang bekerja di Jakarta, mengaku sengaja menyempatkan diri berbelanja sebelum keberangkatan sore hari. Ia memborong kacang mete, emping melinjo, aneka keripik, tempe mlanding, dan tempe benguk dalam jumlah cukup banyak. “Saya mau balik ke Jakarta nanti sore, jadi menyempatkan beli oleh-oleh untuk teman-teman di sana,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Maryani Hastuti, pemudik asal Kismantoro. Menurutnya, tradisi membawa oleh-oleh saat arus balik sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. “Ini seperti tukar-tukaran oleh-oleh dari kampung masing-masing. Tetangga di perantauan juga sering bawa dari daerahnya, jadi saling berbagi rasa kampung halaman,” katanya sambil tersenyum.
Di sisi pelaku usaha, Camilan Sugiyatmo, pemilik salah satu toko oleh-oleh rumahan di kawasan pasar, mengatakan lonjakan pembeli sangat terasa. Penjualan selama periode Lebaran bisa meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan hari-hari biasa. “Ini memang pola tahunan. Perantau yang datang pulang kampung selalu ingin membawa sesuatu yang khas Wonogiri,” ungkapnya.
Sugiyatmo menambahkan bahwa kacang mete dan emping melinjo tetap menjadi primadona meski harganya relatif lebih tinggi dibandingkan camilan lain. Sebagian besar dibeli dalam kemasan besar oleh para perantau. “Ada juga warga lokal yang membeli untuk menyambut sanak saudara yang masih berkunjung setelah salat Idul Fitri,” tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa arus balik Lebaran tidak hanya memengaruhi sektor transportasi, melainkan juga memberi napas baru bagi ekonomi mikro di Wonogiri. Industri rumahan pengolahan makanan khas daerah—dari skala keluarga hingga usaha kecil menengah—mendapat dorongan signifikan. Produk-produk seperti tempe benguk dan tempe mlanding yang diolah secara tradisional di Jatiroto menjadi bukti ketangguhan usaha lokal dalam memanfaatkan momentum budaya mudik.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan nilai ekonomi dan budaya oleh-oleh khas daerah, pelaku usaha rumahan di Wonogiri diharapkan dapat terus berinovasi menjaga kualitas dan keunikan produk mereka di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.
Pewarta: Nandar Suyadi

