RI News Portal. Subussalam – Kota Subulussalam mencatatkan momentum historis dalam peta pembangunan nasional pada Kamis, 8 Januari 2026. Kehadiran tiga tokoh kunci Kabinet Merah Putih—Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono—menandai babak baru bagi penguatan ekonomi dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan Aceh tersebut.
Kunjungan kerja ini bukan sekadar protokoler formal, melainkan sebuah gestur politik pembangunan yang signifikan. Menempuh perjalanan udara dari Jakarta menuju Bandara Silangit, rombongan menteri melanjutkan penerbangan menggunakan helikopter dan mendarat di Lapangan Bola Pegayo. Kehadiran mereka disambut dengan Tari Dampeng, sebuah manifestasi penghormatan budaya lokal terhadap tamu agung yang melambangkan keharmonisan antara adat dan tata kelola pemerintahan.
Wali Kota Subulussalam, H. Rasyid Bancin, bersama unsur Forkopimda dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, menyambut langsung rombongan ini sebagai bentuk sinergi lintas wilayah dalam menyambut program strategis nasional.

Mengawali agenda, para menteri melakukan ziarah ke makam ulama besar sekaligus sastrawan sufi dunia, Syekh Hamzah Fansuri, di Desa Oboh, Kecamatan Runding. Langkah ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah dan intelektual daerah. Di lokasi yang sama, dilakukan penanaman bibit pohon kayu kapur. Aksi simbolis ini merupakan pesan kuat mengenai pentingnya pelestarian ekosistem hutan hujan tropis Aceh di tengah arus industrialisasi.
Puncak acara berlangsung di Pendopo Wali Kota yang dihadiri oleh sekitar 400 tokoh masyarakat, ulama, dan pimpinan pesantren. Dalam forum tersebut, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menggarisbawahi potensi geo-ekonomi Subulussalam yang sangat menjanjikan bagi sektor pertanian dan peternakan.
Zulkifli Hasan menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk menjadikan Subulussalam sebagai salah satu pilar penyangga swasembada pangan nasional. Meski berstatus kota, ketersediaan lahan pertanian yang luas menjadi modal utama untuk pengembangan komoditas unggulan. Visi ini selaras dengan cita-cita daerah untuk mandiri secara pangan melalui modernisasi sektor agraris dan integrasi hulu-hilir.
Baca juga : Seni sebagai Medium Refleksi Profesi: Sugiyanto, S.H. Rilis “Lara Lapa Pengacara” di Jatisrono
Selain membahas visi jangka panjang, kehadiran pemerintah pusat juga membawa solusi taktis. Penyerahan bantuan secara simbolis bagi korban bencana banjir menjadi bukti respons cepat negara terhadap tantangan hidrometeorologi yang kerap melanda wilayah ini.
Kunjungan simultan tiga menteri ini diharapkan menjadi katalisator bagi percepatan infrastruktur pendukung perdagangan dan perikanan darat di Subulussalam. Dengan keterlibatan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, peluang akses pasar bagi produk lokal serta optimalisasi budidaya perikanan diprediksi akan menjadi prioritas dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun-tahun mendatang.
Sejarah baru yang tertulis pada 8 Januari 2026 ini memberikan harapan besar bagi masyarakat Subulussalam dan Aceh Singkil bahwa pembangunan tidak lagi bersifat Jawasentris, melainkan menyentuh nadi terdalam wilayah-wilayah potensial di ujung barat Indonesia.
Pewarta: Jaulim Saran

