RI News Portal. Pemalang – Setelah pencarian intensif selama enam hari penuh tantangan, tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan jenazah Hamim (60), korban terakhir bencana tanah longsor yang melanda Dusun Siranti, Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Penemuan tersebut terjadi pada Jumat (30/1/2026) siang, menutup babak tragis yang dimulai sejak Minggu pagi (25/1/2026) lalu.
Hamim ditemukan tertimbun material tanah dan batu setebal beberapa meter di area persawahan yang menjadi lokasi aktivitas hariannya. Lokasi penemuan berada tidak jauh dari titik awal longsor, namun proses evakuasi memerlukan kehati-hatian ekstra karena kondisi tanah yang masih labil pasca-hujan deras berkepanjangan.
Tim gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, BPBD Kabupaten Pemalang, TNI, Polri, serta puluhan relawan dan warga setempat bekerja tanpa lelah sejak kejadian. Upaya pencarian sempat terhambat oleh cuaca ekstrem yang terus mengguyur wilayah perbukitan Watukumpul, ditambah medan berlumpur dan ancaman longsor susulan. Untuk mempercepat deteksi, Polres Pemalang bahkan mengerahkan unit anjing pelacak (K-9) yang berperan penting dalam mengidentifikasi posisi korban di bawah tumpukan material.

Sebelumnya, anak Hamim, Aksinudin (40), telah lebih dulu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin (26/1/2026). Jenazah Aksinudin terangkat sekitar satu kilometer dari pusat longsoran, menunjukkan kekuatan arus material yang terbawa air hujan deras saat kejadian.
Bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak malam sebelumnya, menyebabkan tebing di kawasan perbukitan runtuh dan menimbun Hamim serta anaknya yang sedang berada di lahan pertanian. Kejadian serupa semakin sering terjadi di daerah lereng-lereng Jawa Tengah bagian selatan, di mana deforestasi parsial, pola tanam musiman, dan perubahan penggunaan lahan memperparah kerentanan tanah terhadap erosi dan longsor hidrometeorologi.
Dengan ditemukannya jenazah Hamim, seluruh korban hilang dalam insiden ini telah berhasil dievakuasi. Saat ini, jenazah sedang dalam proses pengantaran menuju rumah duka untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan sesuai adat setempat.
Pihak berwenang setempat kembali mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana, terutama di zona perbukitan Kabupaten Pemalang, untuk meningkatkan kewaspadaan. Curah hujan yang masih tinggi di musim ini berpotensi memicu peristiwa serupa, sehingga pemantauan dini, relokasi sementara bagi warga di titik rawan, serta penguatan vegetasi penahan tanah menjadi langkah krusial yang perlu dipercepat.
Tragedi di Dusun Siranti ini sekali lagi mengingatkan betapa rentannya komunitas agraris di lereng-lereng Jawa terhadap bencana alam yang dipengaruhi perubahan iklim dan tekanan lingkungan. Di balik duka keluarga korban, harapan muncul agar penemuan ini menjadi momentum bagi upaya pencegahan yang lebih sistematis di masa mendatang.
Pewarta: Ikhwanudin

