RI News, Sleman, Senin (19/10/2026) – Di tengah tuntutan pemolisian yang kian humanis, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta memilih jalan sederhana namun bermakna: datang langsung ke tempat warga berkumpul. Langkah itu diwujudkan lewat kegiatan Jumat Keliling pada Jumat (16/10/2026), yang menjadi ruang temu antara aparat kepolisian dan masyarakat untuk bertukar pesan, kritik, dan harapan.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung Kapolda DIY Irjen Pol Langgeng Purnomo, S.I.K., M.H., didampingi Wakapolda DIY Brigjen Pol Eddy Djunaedi, S.I.K., serta para Pejabat Utama (PJU) Polda DIY. Rombongan menyambangi sejumlah masjid di wilayah Condongcatur, Depok, Sleman, yakni Masjid Al Ikhlas di Jalan Randu, Sanggrahan, Masjid Fatahilah, Masjid Istiqomah di Kaliwaru, dan Masjid Muhajirin di kawasan Perumnas, Condongcatur.
Kehadiran para pimpinan kepolisian tidak berhenti pada pelaksanaan ibadah salat Jumat. Usai ibadah, masjid berubah menjadi forum komunikasi yang cair. Jajaran Polda DIY menyampaikan pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), lalu membuka ruang dialog agar warga dapat menuturkan langsung kondisi lingkungan mereka.
Warga memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan beragam hal, mulai dari harapan dan kritik terhadap kinerja Polda DIY, situasi keamanan di sekitar tempat tinggal, potensi gangguan kamtibmas, hingga persoalan sosial yang memerlukan perhatian bersama.

Kepala Bidang Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan, S.I.K., menjelaskan bahwa Jumat Keliling dan Subuh Keliling merupakan program rutin yang menjadi wujud nyata konsep Polisi Bersama Masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana bagi Polda DIY dan Polres jajaran untuk menemui warga secara langsung.
“Jumat Keliling ini menjadi sarana bagi Polda DIY dan Polres jajaran untuk turun langsung menemui masyarakat dan menyampaikan pesan-pesan kamtibmas serta mendengar secara langsung apa yang menjadi keluhan, kebutuhan, maupun harapan masyarakat terkait keamanan di lingkungannya,” ujarnya.
Ia menegaskan, komunikasi langsung memegang peran penting dalam menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif, sebab keamanan tidak dapat bertumpu pada kepolisian semata, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Dengan komunikasi yang terjalin secara langsung, diharapkan berbagai persoalan dapat diketahui sejak dini dan dicarikan solusi bersama. Polisi tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan, tetapi juga hadir untuk mendengarkan dan membangun kebersamaan dengan masyarakat,” lanjut Kombes Pol Ihsan.
Baca juga : Dari Kedai Kopi ke Meja Kebijakan: Ning Nuri Dengarkan Suara Pengemudi Ojol Ngawi
Dalam perspektif pemolisian komunitas, pendekatan seperti ini berupaya memperpendek jarak antara institusi dan warga. Masjid dipilih karena menjadi salah satu pusat aktivitas sosial masyarakat, sehingga dinilai strategis untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyampaikan imbauan menjaga keamanan lingkungan.
Pesan kamtibmas yang disampaikan diharapkan diteruskan warga kepada lingkungan masing-masing. Dengan begitu, kesadaran kolektif untuk menjaga keamanan dapat tumbuh dari lingkup terkecil, mulai dari keluarga hingga tingkat RT dan RW.
Bagi Polda DIY, kedekatan dengan masyarakat bukan sekadar slogan. Kehadiran Kapolda, Wakapolda, dan para pejabat utama di tengah warga menjadi bentuk komitmen membangun komunikasi dua arah: kepolisian menyampaikan pesan keamanan, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk menyuarakan aspirasi dan persoalan yang dihadapi.
Pewarta: Lee anno
Tagline: #PoldaDIY, #JumatKeliling, #PolisiBersamaMasyarakat, #Kamtibmas, #Yogyakarta, #PemolisianHumanis, #Sleman, #DialogWarga,
