RI News. Padangsidimpuan, 9 September 2026 — Pimpinan Jemaat GBI Rehobot Kota Padangsidimpuan, Pdt. Waspada Gidyon Sarumaha, M.Th, secara resmi sah menyandang gelar Doktor Teologi setelah berhasil mempertahankan riset ilmiahnya dalam Sidang Promosi Doktor di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bethel Indonesia, Jakarta. Pencapaian tertinggi akademis ini merupakan buah dari ketekunan menempuh studi pada Program Doktoral Teologi STTBI Jakarta sejak tahun 2021 hingga 2026.
Gelar doktor yang diraih selama kurun waktu lima tahun ini memendam kisah ketabahan luar biasa. Perjalanan akademik tersebut bukanlah lintasan yang mulus, melainkan sebuah perjuangan eksistensial yang menguji batas ketahanan fisik dan mental. Di tengah jalan, ia sempat mengambil jeda akademis (off) selama dua semester berturut-turut pada tahun 2023 akibat depresi berat yang berdampak komplikasi medis berupa pengentalan darah di kepala, sehingga mengharuskannya menjalani pengobatan serta perawatan intensif.

Riset Holistik: Penanganan Narkoba Berkelanjutan
Keteguhan hati tersebut melahirkan sebuah karya ilmiah yang teramat krusial bagi penanganan isu sosial nasional. Dalam ketetapan akademisnya, Dr. Waspada mengangkat penelitian kualitatif berdesain studi kasus bertajuk:
“Rehabilitasi dan Pencegahan Relapse Narkoba Berkesinambungan Berbasis Therapeutic Community, Spiritualitas Kristen dan Resiliensi Keluarga: Studi Kasus di Yayasan Mercusuar Doa Kota Pematang Siantar”.
Dr. Waspada G. Sarumaha, yang juga mengemban amanah sebagai Ketua DPC Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Kota Padangsidimpuan, menegaskan fundamental pemikiran ilmiahnya. Menurutnya, penanganan krisis narkotika di Indonesia kerap kali terhenti pada tahap penghentian penggunaan zat atau isolasi rehabilitasi formal belaka, tanpa mempersiapkan benteng pertahanan saat mantan pecandu kembali ke masyarakat.
“Saya memilih topik ini karena persoalan narkoba tidak berhenti pada penggunaan zat atau proses rehabilitasi semata, melainkan menyangkut keberlanjutan pemulihan dan ancaman nyata risiko relapse (kambuh) setelah seseorang kembali ke lingkungan kehidupan sehari-hari. Rehabilitasi harus dipahami sebagai proses berkesinambungan. Seorang individu tidak hanya membutuhkan transformasi perilaku, tetapi juga penguatan spiritual yang mendalam serta resiliensi keluarga yang kokoh. Dari situlah saya terdorong mendalami bagaimana sinergi antara Therapeutic Community, spiritualitas, dan ketahanan keluarga bekerja dalam konteks Yayasan Mercusuar Doa Pematang Siantar,” urainya panjang lebar.
Baca juga: Restorasi Ekologi dan Kemanunggalan: Mengurai Strategi Pertahanan Nirmiliter TNI di Wonogiri
Lulus Mulus di Hadapan Dewan Penguji
Dalam Sidang Ujian Terbuka yang berlangsung penuh dinamika argumentasi ilmiah, Dr. Waspada Sarumaha menunjukkan penguasaan metodologis dan artikulasi gagasan yang matang. Ia berhasil menjawab serta mempertahankan argumentasi disertasinya dari berbagai bidikan pertanyaan kritis yang diajukan oleh lima dewan penguji berdedikasi.
Kelima dewan penguji tersebut adalah:
- Dr. Purim Marbun, M.Div., M.Th
- Prof. Dr. Samuel B. Hakh
- Prof. Dr. Frans Pantan, MACM., M.Div., M.Th., D.Min
- Junifrius Gultom, MACM., M.Psi., Th.M., Ph.D
- Dr. Sadrak Sugiono, MACM., M.Th
Atas pemaparan yang komprehensif dan solid, Dewan Penguji secara resmi menyatakan Waspada Sarumaha lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Teologi. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga menjadi sumbangsih pemikiran strategis bagi reintegrasi sosial penyalahguna narkoba melalui pendekatan iman, komunitas, dan institusi keluarga.
Pewarta: Adi Tanjoeng
Tagline: #DoktorTeologiSTTBI, #GBIRehobotPadangsidimpuan, #PdtWaspadaGidyonSarumaha, #PromosiDoktorSTTBI, #ResiliensiKeluarga, #RehabilitasiNarkoba, #TherapeuticCommunity, #SpiritualitasKristen, #PencegahanRelapse, #InspirasiPendidikan, #AsosiasiPendetaIndonesia, #Padangsidimpuan, #STTBethelIndonesia, #STTBIJakarta, #KisahInspiratif,

