RI News. Sleman, 6 September 2026 – Perhelatan tahunan Grebeg Minggir dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kembali digelar di Pondok Pesantren Minggir pimpinan Gus Muwafiq, Sleman, pada Sabtu (5/9/2026). Kehadiran Komandan Korem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono bersama jajaran pejabat daerah dan tokoh lintas instansi menegaskan kedudukan acara ini sebagai ruang perjumpaan strategis antara nilai-nilai keagamaan, kohesi sosial, dan kepemimpinan wilayah.
Agenda rutin yang berlangsung di kawasan Sidomulyo, Sendangrejo ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan sebuah simposium sosial yang menghimpun berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran Ketum PBNU sekaligus Pengasuh PP Tebuireng K.H. Abdul Hakim Mahfudz, Wakapolda DIY Brigjen Pol. Eddy Djunaedi, Kabinda DIY Brigjen TNI Firyawan, hingga deretan pejabat struktural daerah mencerminkan pentingnya integrasi spiritual dalam menjaga stabilitas serta keharmonisan tata kehidupan masyarakat.

Secara akademis, ritual keagamaan yang dipadukan dengan ekspresi budaya lokal seperti Grebeg Buah menunjukkan bagaimana pranata Islam di Jawa mampu melakukan inkulturasi tanpa kehilangan esensi ajaran profetik. Pembacaan amanat Bupati Sleman oleh Sekda Abu Bakar menekankan kembali empat pilar kepemimpinan kerasulan—Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah—sebagai landasan etis yang relevan untuk menopang sikap toleransi serta kesederhanaan di tengah dinamika heterogenitas Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perspektif keistiqamahan lembaga pendidikan Islam dalam merawat tradisi turut disuarakan oleh Wakil Bendahara PWNU DIY H. Sony Amir Sholehudin. Penyelenggaraan yang konsisten ini dipandang sebagai media internalisasi nilai, di mana peringatan seremonial ditransformasikan menjadi pendorong artikulasi akhlak dalam kehidupan bermasyarakat. Pendekatan ini memperkuat fungsi pesantren tidak hanya sebagai pusat transmisi keilmuan keagamaan, tetapi juga sebagai jangkar kebudayaan.
Dalam penyampaian mauidhoh hasanah, pengasuh majelis K.H. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menggarisbawahi pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW secara kaffah melalui tindakan nyata merawat masyarakat. Menurutnya, keberlanjutan tradisi lokal yang berjalan selaras dengan ajaran Islam merupakan warisan para ulama dan leluhur yang menjadi alasan utama mengapa sintesis antara keagamaan dan kebudayaan masih terus hidup dan memberi ruang kebersamaan hingga saat ini.
Puncak perhelatan ditandai dengan tradisi Pesta Grebeg Buah, sebuah artikulasi simbolis atas rasa syukur dan keberkahan melalui pembagian hasil bumi kepada jamaah. Fenomena perebutan hasil bumi ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai teologis diekspresikan secara kolektif, menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu ruang kultural yang inklusif dan sarat makna kebersamaan.
Pewarta: Lee Anno
Tagline: #GrebegMinggir, #MaulidNabi, #GusMuwafiq, #Danrem072Pamungkas, #KebudayaanIslam, #Sleman, #AksesKeberkahan, #TradisiLokal,

