RI News. Wonogiri, 21 Juli 2026- Gelombang kepanikan melanda sebuah pondok pesantren di Desa Manjung, Kabupaten Wonogiri, menyusul mencuatnya dugaan kasus pencabulan yang menjerat Bripka E, anggota Polres Wonogiri sekaligus pimpinan lembaga pendidikan Islam tersebut. Ratusan santri berbondong-bondong meninggalkan pondok sejak akhir pekan lalu setelah orang tua dan wali murid bergegas menjemput anak-anak mereka.
Menurut informasi yang dihimpun, proses penjemputan berlangsung mulai Sabtu (18/7/2026), hanya berselang beberapa waktu setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik. Pengelola pondok sendiri meminta agar para santri segera dijemput keluarga masing-masing. Jumlah santri di pondok tersebut diperkirakan mencapai sekitar 120 orang yang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Wonogiri tetapi juga dari luar kabupaten.
Seorang perangkat desa setempat, Exsanuri, membenarkan adanya penjemputan secara bertahap. Ia mengaku memantau langsung situasi di sekitar pondok hingga larut malam.

“Proses penjemputan santri dimulai sejak Sabtu sore. Saya memantau langsung di lokasi,” ujar Exsanuri saat memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).
Exsanuri menambahkan bahwa penjemputan berlangsung secara kondusif, meski tidak semua santri dapat langsung pulang pada hari yang sama karena faktor jarak tempuh. “Setahu saya sampai hari ini masih ada dua orang santri yang bertahan di sana. Kemungkinan karena jarak rumahnya terhitung jauh,” katanya.
Pemerintah desa bersama warga telah menggelar musyawarah untuk menyikapi kasus ini. Hasil kesepakatan, masyarakat memilih menyerahkan sepenuhnya penanganan hukum kepada aparat kepolisian. Meski demikian, sebagian warga masih menyimpan trauma mendalam akibat kasus sebelumnya di mana seorang santri dikabarkan meninggal dunia diduga akibat penganiayaan.
Baca juga: Polres Padangsidimpuan Gerebek L300 Tenda Biru, Sita Puluhan Karton Rokok Ilegal
“Sikap warga kalau menangkapnya, misal ponpes itu ditutup tentu senang. Kalau tidak ditutup ya silakan. Sebab sebelumnya di sana juga pernah ada insiden santri meninggal dunia,” urai Exsanuri.
Salah seorang orang tua santri, Asnaeni, yang berasal dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mengungkapkan ketidaknyamanannya sejak lama. Menurutnya, pondok tersebut telah menunjukkan kelalaian dalam pengawasan yang berujung pada tragedi sebelumnya.
“Sebetulnya sejak kejadian itu saya selaku orang tua santri sudah merasa tidak nyaman anak saya mondok di sini, akan tetapi pimpinan dan pengelola ponpes bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur Asnaeni.
Kini, suasana di sekitar pondok terlihat sepi setelah mayoritas santri kembali ke pangkuan keluarga. Kasus ini masih terus dikembangkan pihak kepolisian untuk mencari kebenaran dan menegakkan keadilan.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #KasusPencabulanWonogiri, #SantriPulang, #PondokPesantrenKontroversi, #DugaanKekerasan, #PolisiTerlibat,

