RI News. Jakarta – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi pada Senin (11/5/2026) pagi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor nilai tukar rupiah dibandingkan antisipasi rebalancing indeks MSCI, menurut Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Pandu Sjahrir.
“Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI saja, (pergerakan IHSG) hari ini, lebih banyak faktor rupiah dan lain-lain,” ujar Pandu di Jakarta, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan Pandu menanggapi sentimen pasar yang selama ini dibayangi pengumuman hasil evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Meski demikian, ia tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap fundamental pasar saham domestik.

“Ya kita tunggu saja besok. Seharusnya semua (syarat dan catatan MSCI) sudah dimasukkan juga. Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan,” ungkapnya.
Pandu berharap pengumuman MSCI yang dijadwalkan Selasa (12/5) dapat menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Indonesia. “Insya Allah besok (hasil pengumuman) baik,” katanya.
Menurut Pandu, dinamika pasar saham saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal maupun internal. Selain fluktuasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, ia menilai implementasi reformasi di pasar modal Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang positif. Pihaknya masih menanti hasil akhir evaluasi MSCI dalam waktu dekat.
Pada sesi pembukaan perdagangan Senin, IHSG memang tercatat melemah 49,20 poin atau 0,71 persen ke level 6.920,118. Sektor pertambangan menjadi salah satu yang dibayangi sentimen negatif akibat kebijakan royalti tambang. Di sisi lain, rupiah juga ikut tertekan, melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.414 per dolar AS.
Baca juga : Timor Leste Siap Pimpin ASEAN 2029: Bukti Evolusi Komunitas yang Semakin Inklusif
Pelemahan mata uang rupiah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Iran menolak proposal perdamaian Amerika Serikat terkait konflik dengan Israel. Kondisi ini mempertegas pandangan Pandu bahwa tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata berasal dari sentimen indeks global semacam MSCI, melainkan juga dari faktor makroekonomi dan geopolitik yang lebih luas.
Meski pasar tengah bergejolak, Pandu Sjahrir menekankan bahwa otoritas bursa telah menunjukkan komitmen kuat dalam melakukan perbaikan struktural. Reformasi yang sedang berjalan, menurutnya, semakin menjadikan pasar modal Indonesia lebih menarik bagi investor jangka panjang.
Sebagai salah satu pimpinan investasi di Danantara, Pandu Sjahrir kerap menjadi rujukan pasar mengenai arah kebijakan investasi negara. Pandangannya kali ini memberikan perspektif seimbang di tengah kekhawatiran investor menjelang pengumuman MSCI, sekaligus menggarisbawahi ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di balik fluktuasi harian.
Pasar kini menanti hasil resmi MSCI besok dengan harapan besar bahwa keputusan tersebut dapat mengembalikan momentum positif bagi IHSG dan rupiah di pekan ini.
Pewarta : Vie


