RI News. Sipirok – Sungguh menyayat hati. Seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay bersama calon bayinya setelah berjuang hidup dan mati melewati medan perbukitan yang sulit di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kejadian tragis ini terjadi pada Sabtu, 9 Mei 2026 lalu.
Menurut informasi yang dihimpun, Tuti Daulay, istri Rinto Aritonang, harus ditandu dan dibantu warga setempat berjalan kaki menempuh jarak sekitar 7 kilometer menuju RSUD Sipirok. Upaya penyelamatan yang dilakukan warga dengan segenap tenaga itu akhirnya pupus. Perjuangan Tuti pada janin yang dikandungnya tak dapat diselamatkan akibat keterlambatan penanganan medis.
Keterbatasan infrastruktur jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan bermotor di wilayah pelosok tersebut menjadi faktor utama lambatnya proses evakuasi. Akses transportasi yang minim, ditambah pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa yang dinilai belum memadai, semakin memperburuk situasi. Polindes dan fasilitas kesehatan desa yang seharusnya menjadi garda terdepan tampaknya belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat di daerah terpencil.

Ribut Wahidin, Ketua LSM Topan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian ini. Ia menilai kasus tersebut mencerminkan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pelayanan kesehatan di desa-desa tertinggal.
“Kami meminta Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, beserta Dinas Kesehatan segera mengambil langkah konkret. Jika pelayanan di desa tidak ada, maka jaminan kesehatan masyarakat juga tidak terjamin,” tegas Ribut Wahidin.
Lebih lanjut, ia mendesak agar pembangunan sarana prasarana, khususnya infrastruktur jalan dan fasilitas kesehatan, dilakukan secara merata hingga ke pelosok. Ribut juga menyoroti pentingnya penambahan tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kepada Kadis Kesehatan Tapanuli Selatan, dr. Sri Khiarunnisa, kami harap segera tingkatkan infrastruktur kesehatan di daerah terpencil. Sementara kepada anggota DPRD Kabupaten Tapanuli Selatan, khususnya yang berada di dapil wilayah ini, saatnya membuka mata dan hati. Bawalah aspirasi masyarakat saat reses, buktikan peran sebagai wakil rakyat,” tambahnya.
Baca juga : Gotong Royong Tak Kenal Libur: Satgas TMMD Reguler ke-128 Tingkatkan Semangat di Sidorejo
Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari Bupati Gus Irawan Pasaribu maupun Kadis Kesehatan Tapanuli Selatan meski telah diupayakan konfirmasi.
Tragedi yang menimpa Tuti Daulay ini menjadi pengingat pahit betapa masih banyak warga di daerah terpencil yang berjuang sendirian menghadapi keterbatasan akses kesehatan. Pemerintah kabupaten diharapkan menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan kesehatan dasar, termasuk penguatan Polindes dan kehadiran bidan di setiap desa.
Semoga tragedi ini tidak menjadi catatan buruk berulang, melainkan titik balik perbaikan pelayanan publik bagi seluruh masyarakat Tapanuli Selatan.
Pewarta: Adi Tanjoeng


