RI News. Semarang, 1 Mei 2026 — Untuk pertama kalinya, teknologi kecerdasan buatan (AI) berhasil merekonstruksi wajah seorang korban letusan Gunung Vesuvius tahun 79 Masehi dengan tingkat realisme yang tinggi. Proyek ini dilakukan oleh Taman Arkeologi Pompeii bekerja sama dengan Universitas Padua, menandai babak baru dalam studi arkeologi klasik.
Pria yang direkonstruksi ditemukan di dekat nekropolis Porta Stabia, di luar tembok kota Pompeii. Ia tewas pada fase awal letusan saat mencoba melarikan diri menuju pantai bersama satu orang lainnya. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa ia meninggal dunia akibat hujan lebat puing vulkanik yang jatuh dari langit.
Saat ditemukan, pria tersebut menggenggam erat sebuah mortir terakota yang kemungkinan besar digunakan sebagai pelindung kepala darurat. Ia juga membawa lampu minyak, cincin besi kecil, serta sepuluh koin perunggu—benda-benda pribadi yang memberikan gambaran nyata tentang momen-momen terakhir kehidupannya sekaligus kehidupan sehari-hari masyarakat Pompeii sebelum tragedi.

Rekonstruksi wajah dilakukan dengan menggabungkan data pengukuran kerangka, temuan arkeologi, serta teknik AI dan penyuntingan foto canggih. Hasilnya menampilkan sosok pria yang sedang berlari di jalanan penuh puing, sambil memegang mangkuk besar di atas kepalanya sebagai perisai, dengan latar belakang Gunung Vesuvius yang sedang meletus dahsyat.
Direktur Taman Arkeologi Pompeii, Gabriel Zuchtriegel, menyatakan bahwa volume data arkeologi saat ini sudah sedemikian besar sehingga AI menjadi alat yang tidak lagi bisa dihindari. “Jika digunakan dengan bijak, kecerdasan buatan dapat menjadi katalisator bagi pembaruan studi-studi klasik,” ujarnya.
Berbeda dengan rekonstruksi wajah historis sebelumnya yang sering bergantung pada seni manual, proyek ini mengandalkan pendekatan ilmiah yang ketat. Para peneliti menekankan bahwa tujuan utama bukan sekadar menghasilkan gambar yang menarik, melainkan membuat penelitian arkeologi lebih mudah dipahami dan lebih menyentuh emosi publik tanpa mengorbankan akurasi ilmiah.
Baca juga : Ancaman Spiral Nuklir Global: Peringatan Keras CTBTO di Tengah Ketegangan AS-Rusia-China
Pompeii, yang kini menjadi situs Warisan Dunia UNESCO, terus memberikan pelajaran berharga tentang kerapuhan peradaban manusia di hadapan kekuatan alam. Dengan kemajuan teknologi seperti AI, para ilmuwan berharap dapat menghidupkan kembali kisah-kisah ribuan korban yang selama ini hanya tersimpan dalam abu dan batu.
Proyek ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi penerapan teknologi serupa pada temuan arkeologi lainnya, membuka peluang baru untuk memahami sejarah manusia dengan cara yang lebih mendalam dan manusiawi.
Pewarta : Anjar Bramantyo


