RI News. UN, Jakarta, 1 Mei 2026 — Kepala Organisasi Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBTO), Robert Floyd, menyampaikan peringatan serius bahwa kembalinya uji coba nuklir oleh Amerika Serikat, Rusia, atau negara mana pun berpotensi memicu “spiral” yang sulit dihentikan.
Menurut Floyd, jika salah satu negara nuklir besar memulai kembali uji coba eksplosif, negara-negara lain kemungkinan besar akan mengikuti. “Ini adalah spiral yang tidak ingin kita lihat dimulai, karena mungkin tidak akan pernah bisa dihentikan,” ujarnya kepada para koresponden Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pernyataan ini disampaikan di tengah tinjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di PBB, yang berlangsung di bawah bayang-bayang konflik Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa tindakan terhadap Iran diperlukan untuk mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir.

Ketika Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) dibuka untuk ditandatangani tiga puluh tahun lalu, dunia telah menyaksikan lebih dari 2.000 uji coba nuklir. Namun sejak itu, angka tersebut berhasil ditekan drastis menjadi kurang dari selusin kali, termasuk enam uji coba yang dilakukan Korea Utara.
Keberhasilan moratorium uji coba ini menjadi salah satu pencapaian paling signifikan dalam pengendalian senjata nuklir pasca-Perang Dingin. Namun, ancaman baru muncul di akhir tahun lalu ketika baik Washington maupun Moskow saling mengancam akan melanjutkan program uji coba.
Trump sempat menuduh Rusia dan China melakukan uji coba secara diam-diam dan memerintahkan Departemen Pertahanan AS untuk mempersiapkan uji coba “dengan dasar yang sama”. Sementara itu, Rusia menyatakan akan hanya merespons jika AS memulai terlebih dahulu.
CTBT diadopsi pada 1996, tetapi hingga kini belum berlaku penuh karena belum diratifikasi oleh 44 negara spesifik yang ditentukan. Sembilan negara di antaranya masih menunda ratifikasi. Amerika Serikat, China, Iran, Mesir, dan Israel telah menandatangani tetapi belum meratifikasi. India, Pakistan, dan Korea Utara sama sekali belum menandatangani. Rusia sempat meratifikasi, tetapi mencabutnya pada 2023.
Floyd menekankan perlunya menemukan mekanisme agar Amerika Serikat, Rusia, dan China dapat meratifikasi perjanjian secara bersama-sama. “Langkah itu pasti akan menjadi kemajuan yang sangat kuat,” katanya.
Ia baru-baru ini bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Moskow dan menyampaikan bahwa tidak ada satu pun negara yang diuntungkan dari kembalinya uji coba nuklir tanpa batas. Floyd juga telah bertemu pejabat Departemen Luar Negeri AS dan terbuka untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Salah satu kekuatan utama CTBT adalah sistem pemantauan internasionalnya yang sangat sensitif. Menurut Floyd, sistem ini mampu mendeteksi ledakan nuklir bahkan dengan daya ledak relatif kecil di mana pun di dunia. Setiap negara yang berusaha mengembangkan senjata nuklir baru hampir pasti memerlukan uji coba, dan tindakan tersebut akan langsung diketahui komunitas internasional.
Di tengah melemahnya rezim pengendalian senjata nuklir pasca-kadaluarsanya New START dan meningkatnya ketegangan geopolitik, peringatan Floyd mengingatkan kembali betapa rapuhnya stabilitas nuklir global saat ini.
Para ahli menilai bahwa kembalinya kompetisi uji coba nuklir bukan hanya akan mempercepat perlombaan senjata, tetapi juga mengikis norma global yang telah berhasil menahan proliferasi nuklir selama tiga dekade terakhir.
Pewarta : Anjar Bramantyo


