RI News. Jakarta , 1 Mei 2026 – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Jerman, salah satu sekutu utama NATO di Eropa, semakin mendalam. Presiden Donald Trump secara terbuka menyerang Kanselir Jerman Friedrich Merz dan mengancam mengurangi kehadiran pasukan Amerika di Jerman, menyusul kritik keras Merz terhadap penanganan Washington atas konflik dengan Iran.
Pada hari Senin lalu, Friedrich Merz menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang “dihina” oleh kepemimpinan Iran, khususnya oleh Korps Pengawal Revolusi Islam. Dalam pertemuan dengan mahasiswa di Marsberg, Merz mengkritik strategi negosiasi Gedung Putih yang dinilainya kurang meyakinkan. Menurutnya, Iran terbukti lebih tangguh dari perkiraan, sementara AS tampak kesulitan menemukan jalan keluar yang jelas dari konflik tersebut.
Respons Trump tidak lama datang. Melalui unggahannya, Presiden AS menegaskan bahwa Merz seharusnya lebih memfokuskan perhatian pada upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina—di mana Jerman dianggapnya tidak efektif—serta memperbaiki masalah dalam negeri, terutama imigrasi dan energi. Trump menambahkan bahwa Jerman sebaiknya tidak ikut campur dalam upaya menghilangkan ancaman nuklir Iran yang justru membuat dunia, termasuk Jerman, menjadi lebih aman.

Keesokan harinya, Trump semakin menaikkan tensi dengan menyatakan bahwa pemerintahannya sedang “mempelajari dan meninjau” kemungkinan pengurangan jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Jerman. Keputusan akhir disebutkan akan diambil dalam waktu dekat. Ancaman ini bukan kali pertama dilontarkan Trump, namun kali ini muncul tepat di tengah perselisihan terbuka dengan Kanselir Merz.
Pada Kamis sore, saat mengunjungi pasukan di Munster, Merz tidak menanggapi ancaman pengurangan pasukan secara langsung. Ia justru menekankan pentingnya menjaga kemitraan transatlantik yang erat dan penuh kepercayaan, dengan semangat saling menghormati serta pembagian beban yang adil.
Analis pertahanan Eropa memandang perkembangan ini sebagai gejala yang lebih serius. Fabrice Pothier, mantan Direktur Kebijakan NATO, menyebut situasi saat ini sebagai “momen katak mendidih” (boiling frog moment). Hubungan transatlantik semakin memburuk secara bertahap, namun Eropa kerap diyakinkan bahwa Amerika tetap menjadi sekutu yang baik. Menurut Pothier, sudah saatnya Eropa mempersiapkan skenario “Eropa tanpa Amerika Serikat” dengan memperkuat pertahanan kolektif secara mandiri.
Pasal 5 Piagam NATO yang menyatakan “serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua” menjadi semakin dipertanyakan relevansinya di tengah dinamika ini. Kelelahan di kalangan pemimpin Eropa terhadap pendekatan konfrontatif Trump juga semakin terlihat. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump telah mencabut sanksi terhadap minyak Rusia dan sering melontarkan kritik tajam terhadap sekutu NATO yang enggan mendukung sepenuhnya kebijakannya di Timur Tengah.
Perselisihan terbaru ini mencerminkan pergeseran yang lebih struktural dalam hubungan AS-Eropa. Di satu sisi, Jerman berusaha mempertahankan posisi sebagai kekuatan stabil di Eropa dengan menekankan diplomasi dan strategi yang matang. Di sisi lain, pendekatan Trump yang transaksional dan tekanan langsung terhadap sekutu menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kohesi NATO di tengah multiple krisis global.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa jika ancaman pengurangan pasukan benar-benar direalisasikan, dampaknya tidak hanya terhadap keamanan Jerman, melainkan juga kestabilan pertahanan Eropa secara keseluruhan. Hal ini berpotensi mempercepat upaya Uni Eropa untuk membangun otonomi strategis yang lebih kuat dalam bidang pertahanan.
Sementara itu, kedua pihak masih menyatakan komitmen untuk menjaga komunikasi. Namun, retakan yang semakin terlihat ini menjadi pengingat bahwa aliansi transatlantik, yang selama puluhan tahun menjadi fondasi keamanan Barat, kini menghadapi ujian paling berat sejak akhir Perang Dingin.
Pewarta : Setiawan Wibisono


