RI News. Lampung Barat – Di bawah langit sejuk Kabupaten Lampung Barat, seorang siswi sekolah menengah pertama berjalan mantap menyusuri bahu jalan menuju pusat pelayanan kesehatan hewan. Rambutnya yang panjang rapi dikepang, kulit cerahnya sedikit memerah terkena sinar matahari, namun senyumnya tetap cerah meski keringat membasahi dahi. Di pelukannya terbaring seekor kucing kampung yang lemah tak berdaya, menjadi bukti nyata tanggung jawab yang ia emban dengan penuh kasih sayang.
Nabila, siswi kelas 1 MTs Liwa, belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta hewan di wilayah tersebut. Ia bukan sekadar membawa satu ekor kucing. Di rumah sederhananya yang kini menjelma sebagai tempat perlindungan sementara, lebih dari sepuluh ekor kucing kampung dirawatnya dengan penuh dedikasi. Bagi Nabila, setiap ekor bukanlah sekadar hewan peliharaan, melainkan nyawa yang diselamatkan dari ancaman jalanan yang keras.
Kepedulian Nabila muncul secara alami setiap kali ia menemukan kucing yang sakit atau terluka. Ia tak pernah ragu berhenti, berlutut, dan membawa makhluk itu pulang untuk dirawat. “Mereka hanya butuh sedikit kasih sayang agar bisa kembali sehat dan bahagia,” ujarnya sederhana.

Konsistensinya patut diacungi jempol. Sejak masih duduk di bangku kelas 5 SD, Nabila sudah rutin menempuh jarak lebih dari satu kilometer dengan berjalan kaki menuju Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Liwa. Setiap bulan ia memanfaatkan program layanan kesehatan dan vaksinasi hewan peliharaan yang disediakan pemerintah daerah setempat melalui Dinas terkait dan Puskeswan. Bukan kucing ras mahal yang dibawanya, melainkan kucing domestik atau kampung yang sering terabaikan.
Aksi Nabila sempat menarik perhatian Liliana Paramita, Ketua komunitas pencinta kucing di Lampung Barat. Saat Nabila datang membawa dua ekor kucing dalam pet carrier, salah satunya bernama Abu yang tampak lemas karena sakit, Liliana terharu. “Melihat Nabila seperti melihat harapan baru. Di era sekarang, masih ada anak muda yang rela berjalan jauh hanya demi menyelamatkan kucing kampung. Baginya, mereka adalah keluarga yang harus dijaga kesehatannya,” ungkap Liliana dengan nada penuh emosi.
Kepala UPTD Puskeswan Liwa, Suryono, langsung memberikan penanganan medis. Diagnosis menunjukkan Abu mengalami flu berat. Berkat kecepatan Nabila membawa hewannya ke fasilitas kesehatan, Abu segera mendapat obat dan perawatan yang tepat, sehingga bisa pulih dan kembali aktif.
Baca juga : Koperasi Merah Putih Wonogiri Menuju Garis Finish: Operasional Dipercepat Jelang HUT RI ke-82
Kisah Nabila menjadi angin segar di tengah tren media sosial yang kerap menonjolkan kucing ras sebagai simbol gaya hidup. Sementara banyak orang terpikat pada penampilan dan harga, Nabila justru memilih memberi hati sepenuhnya kepada kucing jalanan yang rentan. Kepeduliannya melampaui usia muda, menunjukkan bahwa kasih sayang sejati tidak mengenal batas ras atau status.
Bagi generasi muda, terutama Gen Z, sosok Nabila menjadi teladan hidup. Langkah kakinya di jalanan Liwa menyampaikan pesan mendalam: kepedulian tidak perlu alasan mewah, dan jarak bukan penghalang untuk berbuat baik. Ia membuktikan bahwa kebaikan hakiki terpancar dari tindakan nyata merawat yang lemah, bukan dari penampilan luar semata.
Ke depan, harapan besar muncul bahwa “efek Nabila” akan menyebar luas. Anak-anak muda lain di Lampung Barat diharapkan tak lagi ragu membawa kucing kampung ke fasilitas kesehatan. Nabila telah menanam benih kepedulian di tanah Sekala Bekhak, yang kelak tumbuh menjadi sikap kolektif menghargai seluruh makhluk hidup.
Kisah sederhana ini mengingatkan kita semua bahwa tangan kecil yang memberi makan dan menyembuhkan luka hewan liar sebenarnya sedang menyembuhkan luka kemanusiaan yang lebih besar. Di tengah kesibukan modern, Nabila menjadi pembawa pesan bahwa mencintai sesama ciptaan Tuhan adalah bentuk keindahan yang paling abadi.
Pewarta : Atalinsyah

