RI News. Semarang – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei 2026, Polda Jawa Tengah tak ingin sekadar siap secara teknis. Melalui Latihan Kesiapan Satuan yang digelar di Gedung Borobudur, Senin (13/4/2026), institusi ini memperkuat pendekatan yang lebih dalam: memastikan setiap anggota Polri hadir di tengah masyarakat sebagai mitra, bukan penghalang, bagi para buruh yang ingin menyampaikan suaranya.
Kegiatan yang melibatkan 372 peserta dari berbagai fungsi operasional Polres jajaran ini bukan latihan biasa. Hadir para Kabag Ops, Kasat Reskrim, Kasat Binmas, Kasat Samapta, hingga Kasi Humas dan Kasi Propam. Kehadiran lintas fungsi tersebut mencerminkan pemahaman bahwa pengamanan aksi unjuk rasa tak lagi cukup hanya dengan kekuatan fisik. Komunikasi yang efektif, negosiasi yang cerdas, dan pengendalian diri yang matang menjadi elemen krusial untuk menjaga ketertiban tanpa mengorbankan hak berekspresi.
Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, Kapolda Jawa Tengah, yang membuka langsung pelatihan tersebut, menyoroti dinamika situasi yang semakin kompleks. Tahun ini, peringatan May Day diperkirakan akan diwarnai berbagai isu strategis, mulai dari tantangan ketenagakerjaan seperti ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat konflik geopolitik, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga tuntutan terkait perlindungan hak pekerja yang lebih adil.

“Kehadiran Polri dalam aksi unjuk rasa bukan untuk membatasi, melainkan untuk memastikan setiap aspirasi dapat disampaikan secara aman dan tertib,” tegas Kapolda. Ia menekankan agar seluruh personel mengedepankan pelayanan yang profesional sekaligus humanis. “Pastikan setiap tindakan dilakukan secara profesional sesuai dengan eskalasi yang dihadapi serta layani dengan humanis,” imbuhnya.
Lebih dari itu, Kapolda mendorong pendekatan pencegahan yang lebih kuat melalui community policing atau Polmas, serta optimalisasi cooling system bersama elemen masyarakat. Sinergi dengan tokoh masyarakat, serikat buruh, pelaku usaha, dan komunitas lainnya dianggap sebagai kunci utama menjaga stabilitas keamanan di wilayah Jawa Tengah.
Materi pelatihan dirancang secara komprehensif, mencakup penegakan hukum terhadap potensi tindak pidana dalam aksi anarkis, teknik negosiasi, pengendalian massa, manajemen informasi publik, hingga pemenuhan hak asasi manusia. Pembekalan khusus juga diberikan terkait penanganan aksi yang melibatkan perempuan dan anak, sebagai wujud kepedulian terhadap kelompok rentan yang sering terlibat dalam demonstrasi.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk komitmen nyata Polri untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. “Di tengah dinamika penyampaian aspirasi yang merupakan bagian dari demokrasi, kehadiran Polri yang humanis menjadi harapan bersama. Melalui pelatihan ini, kami memastikan setiap personel mampu bertugas secara profesional dan penuh empati, sehingga masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Dengan persiapan yang matang ini, Polda Jawa Tengah berharap May Day 2026 tidak hanya menjadi momentum perjuangan hak buruh, tetapi juga contoh bagaimana keamanan dan kebebasan berekspresi dapat berjalan beriringan dalam iklim demokrasi yang sehat.
Pewarta: Nandang Bramantyo

