RI News. Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengaku sering menjadi sasaran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu memanipulasi suara dan citra dirinya secara realistis. Ia menceritakan hal tersebut saat memberikan taklimat dalam Rapat Kerja Pemerintah bersama Kabinet Merah Putih, seluruh eselon I kementerian/lembaga, serta direksi BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Menurut Prabowo, AI kini dapat menciptakan konten seolah-olah dirinya berbicara dalam berbagai bahasa asing atau bahkan bernyanyi dengan kemampuan vokal yang baik, padahal kenyataannya berbeda. “AI bisa membuat seseorang bicara yang dia tidak bicara. Saya sering loh,” ujarnya.
Ia pun terkejut saat menemukan video di platform berbagi video yang menampilkan dirinya menyanyi dengan suara merdu. “Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tapi ada di sana saya bisa nyanyi, suaranya bagus banget. Saya saja kaget,” tutur Prabowo sambil tertawa.

Tak hanya itu, Prabowo juga menemukan konten yang memperlihatkan dirinya berpidato lancar dalam bahasa Mandarin dan Arab. Fenomena ini sempat ia biarkan berlalu karena dianggap menguntungkan dalam konteks kampanye di beberapa daerah. “Ada lagi, saya berpidato dalam bahasa Mandarin, ya kan. Ada lagi saya berpidato dengan bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira kalau di daerah-daerah tapal kuda ini mungkin menguntungkan, jadi saya diam juga. Kalau menguntungkan kita diam,” katanya seraya tertawa.
Meski demikian, Presiden menekankan bahwa perkembangan teknologi semacam ini patut menjadi perhatian serius. Manipulasi berbasis AI berpotensi menghasilkan konten yang jauh dari fakta, sehingga dapat menyesatkan publik.
Prabowo melanjutkan dengan mengingatkan bahaya penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial di era digital. Menurutnya, ancaman terhadap suatu negara kini tidak lagi harus melibatkan pasukan atau bom secara fisik. “Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks,” tegasnya.
Baca juga : Truk Colt Diesel Oleng dan Terjun ke Jurang di Kelok 9: Dua Korban Selamat Berkat Evakuasi Warga
Ia juga menyoroti kemudahan menciptakan banyak akun palsu dengan perangkat yang relatif terjangkau. Dengan cara itu, sekelompok kecil orang dapat memperbesar suatu isu hingga terlihat masif melalui efek gema atau echo chamber. “Jadi yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1000 orang, mungkin 5000 orang bisa bikin heboh. Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain,” jelas Prabowo.
Pernyataan Presiden ini mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap dampak teknologi informasi yang semakin canggih. Dalam rapat tersebut, Prabowo tampaknya ingin menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif di kalangan pemerintah dan aparatur negara terhadap risiko disinformasi yang didukung AI, sekaligus memperkuat upaya perlindungan ruang informasi publik di Indonesia.
Dengan pesatnya kemajuan AI, kasus manipulasi identitas seperti yang dialami Prabowo menjadi pengingat bahwa batas antara fakta dan rekayasa digital semakin tipis. Para ahli teknologi dan keamanan siber pun kerap mengingatkan perlunya regulasi yang lebih ketat serta literasi digital yang lebih baik bagi masyarakat untuk menghadapi tantangan ini di masa depan.
Pewarta : Albertus Parikesit

