RI News. Sorong – Insiden kontak tembak antara aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, pada Minggu (22/3/2026) menimbulkan duka mendalam sekaligus memicu langkah pencegahan lebih ketat. Dua prajurit TNI Angkatan Laut yang bertugas dalam Satuan Tugas Operasi Habema gugur saat menjalankan tugas negara, memicu komando daerah militer setempat untuk segera meningkatkan pengamanan dan memperkuat fungsi intelijen guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Komandan Korem 181/Praja Vira Tama (PVT), Brigjen TNI Slamet Riyadi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah antisipatif sejak kejadian tersebut. “Setelah kejadian ini, kami meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemetaan wilayah rawan, serta memperketat pengawasan di lapangan,” ujarnya saat ditemui di depan RSAL Dr. R. Oetojo, Kota Sorong, Minggu sore.
Menurut Danrem, upaya penguatan tidak hanya bersifat reaktif, melainkan juga strategis jangka pendek maupun menengah. Koordinasi antar-satuan ditingkatkan, termasuk dengan Satuan Tugas Operasi Habema yang melibatkan prajurit Batalion Marinir 10. Pembagian sektor operasi antara satuan di bawah Korem 181/PVT dan Satgas Habema dinilai efektif untuk memastikan respons cepat terhadap setiap potensi gangguan.

“Koordinasi terus kami lakukan dengan Satgas Habema. Dengan pembagian sektor yang ada, setiap potensi gangguan dapat segera direspons,” tegasnya.
Lebih lanjut, Brigjen Slamet Riyadi mengungkapkan rencana penambahan maupun pergeseran pasukan di wilayah rawan, disertai penguatan fungsi intelijen. Informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat dan aparat intelijen akan terus dikembangkan untuk mendukung operasi pengamanan yang lebih presisi.
“Penambahan pasukan sedang direncanakan, termasuk penguatan intelijen. Informasi dari masyarakat dan aparat intelijen akan terus kami kembangkan,” katanya.
Terkait identitas pelaku penyerangan, Danrem mengatakan pihaknya sudah memiliki indikasi awal. Namun, informasi resmi akan disampaikan setelah seluruh data lapangan diverifikasi secara akurat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Kami sudah memiliki dugaan terhadap pelaku, tetapi akan kami sampaikan setelah informasi benar-benar valid,” jelasnya.
Meski demikian, insiden tersebut tidak mengurangi komitmen soliditas antara TNI dan Polri dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua Barat Daya. Brigjen Slamet Riyadi menegaskan bahwa sinergi kedua institusi tetap menjadi pondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan di wilayah tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Danrem menyampaikan rasa duka mendalam atas gugurnya dua prajurit TNI AL yang tergabung dalam Satgas Operasi Habema. “Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga para pahlawan yang telah gugur dalam menjalankan tugas negara,” pungkasnya.
Langkah-langkah penguatan yang diambil TNI ini diharapkan tidak hanya meredam potensi gangguan serupa, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat di Kabupaten Maybrat dan sekitarnya, sekaligus menunjukkan komitmen nyata institusi dalam menjaga kedaulatan wilayah paling timur Indonesia.
Pewarta : Vie

