RI News. Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pasokan pangan nasional menjelang dan selama Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 berada dalam kondisi stabil serta terkendali sepenuhnya. Pernyataan ini menjadi sorotan karena mencerminkan keberhasilan upaya kolektif dalam menjaga ketahanan pangan di tengah momentum perayaan yang selalu diiringi lonjakan permintaan.
Dalam keterangannya di Jakarta pada hari Minggu, Mentan Amran menekankan bahwa situasi ini membawa kebahagiaan bagi seluruh rantai pangan. “Produksi berjalan baik, stok melimpah, dan harga terjaga stabil. Petani bisa terus memproduksi tanpa khawatir rugi, pedagang dapat menjalankan usaha dengan lancar, sementara masyarakat sebagai konsumen memperoleh bahan pangan dengan harga yang masih terjangkau,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Amran, berkomitmen menjaga keseimbangan harga yang adil. Harga tidak boleh melonjak tinggi hingga membebani konsumen, namun juga tidak boleh jatuh terlalu rendah hingga merugikan petani. Pengawasan ketat dilakukan secara lintas sektor guna mencegah praktik penimbunan maupun spekulasi harga, terutama pada periode Ramadhan dan Lebaran yang rentan fluktuasi.

“Pantauan di berbagai pasar tradisional maupun modern menunjukkan harga kebutuhan pokok stabil dengan stok yang mencukupi,” tambahnya. Keberhasilan ini, menurut Amran, merupakan buah dari strategi terintegrasi mulai dari peningkatan produksi di hulu, penguatan cadangan pangan, pengawasan distribusi yang ketat, hingga pengendalian harga di tingkat pasar.
Stok beras nasional menjadi salah satu pilar utama ketahanan pangan kali ini. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog tercatat sekitar 4,09 juta ton, ditambah beras yang beredar di masyarakat mencapai 11–12 juta ton, serta potensi panen mendatang sekitar 12 juta ton. Secara keseluruhan, kekuatan stok beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton, setara dengan ketahanan hingga 11 bulan ke depan.
Produksi beras nasional pun menunjukkan tren positif. Panen raya yang sedang berlangsung di berbagai wilayah, khususnya pada Maret 2026, menghasilkan geliat yang menggembirakan. Dengan kebutuhan bulanan nasional sekitar 2,59 juta ton, sementara produksi bulanan berkisar 2,6 hingga 5,7 juta ton, posisi beras berada dalam surplus yang nyaman.
Baca juga : Prabowo: Hilirisasi Tetap Syarat Mutlak Investasi AS di Sektor Mineral Kritis
Berdasarkan neraca pangan nasional hingga April 2026, sejumlah komoditas strategis lainnya juga surplus. Beras mencatat ketersediaan 27,5 juta ton berbanding kebutuhan 10,3 juta ton (surplus 17,2 juta ton). Cabai rawit surplus 105 ribu ton (ketersediaan 409 ribu ton vs kebutuhan 304 ribu ton), daging ayam surplus 727 ribu ton (ketersediaan 2,07 juta ton vs kebutuhan 1,34 juta ton), serta bawang merah surplus 57 ribu ton (ketersediaan 479 ribu ton vs kebutuhan 422 ribu ton). Bahkan untuk cabai, surplus produksi pada Maret mencakup cabai rawit merah sekitar 46.868 ton dan cabai besar 8.282 ton, yang turut mendorong harga cabai mulai stabil hingga cenderung menurun.
“Dengan produksi surplus dan distribusi yang lancar dari hulu ke hilir, stabilitas harga dapat terus dijaga,” tegas Amran. Ia menambahkan bahwa tujuan utama pemerintah adalah menciptakan senyum bagi semua pihak: petani karena harga panen menguntungkan, pedagang karena barang tersedia dan laku, serta masyarakat karena harga tetap ramah di kantong.
Momentum Lebaran tahun ini, demikian Amran, bukan sekadar perayaan ritual, melainkan “kemenangan dan berkah” bagi seluruh elemen masyarakat. Kondisi pangan yang aman dan terkendali ini diharapkan memperkuat rasa syukur bersama di tengah Hari Raya yang penuh makna.
Pewarta : Diki Eri

