RI News. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah – Belum sepenuhnya lepas dari ancaman cuaca ekstrem meski telah melewati puncak musim hujan pada Februari 2026. Hujan lebat disertai angin kencang kembali melanda wilayah ini dalam beberapa hari terakhir, memicu serangkaian bencana hidrometeorologi seperti pohon tumbang, kerusakan bangunan, hingga tanah longsor yang mengganggu mobilitas masyarakat.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, kejadian paling signifikan terjadi pada Rabu sore (4 Maret 2026), ketika hujan deras dan angin kencang menerjang hampir merata di delapan kecamatan: Selogiri, Jatipurno, Ngadirojo, Girimarto, Puhpelem, Bulukerto, Wonogiri, dan Slogohimo. Peristiwa itu berlangsung sekitar pukul 15.35 hingga 17.00 WIB, menyebabkan banyak pohon tumbang yang menimpa rumah penduduk, merobek atap bangunan, serta merusak lapak pedagang kaki lima di pinggir jalan.
Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menjelaskan bahwa dampak paling parah terlihat di Kecamatan Jatipurno, di mana sekitar 50 rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara lima unit rumah lainnya rusak berat karena atapnya terlepas diterpa angin. Fasilitas umum juga tak luput dari kerusakan, termasuk atap dan kanopi Kantor Kelurahan Balepanjang serta satu tiang listrik yang roboh tertimpa pohon.

Di Kecamatan Bulukerto, satu rumah warga hancur tertimpa pohon tumbang, memaksa lima penghuninya mengungsi sementara. Kejadian serupa terjadi di Desa Domas, di mana dua warga terpaksa meninggalkan rumahnya akibat pohon yang menimpa bangunan. Sementara di Desa Soco, Kecamatan Slogohimo, beberapa rumah mengalami kerusakan atap dengan estimasi kerugian material per rumah berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta.
Tak hanya angin kencang, cuaca buruk juga memicu tanah longsor di sejumlah titik. Pada Rabu (4 Maret 2026), pohon sengon tumbang sempat menutup total jalur utama Wonogiri–Solo di Kecamatan Selogiri, meski akses cepat dipulihkan berkat gotong royong warga dan petugas. Dampak serupa melanda Kecamatan Ngadirojo, Girimarto, dan Puhpelem, di mana pohon tumbang menutup akses jalan di beberapa lokasi dan atap rumah rusak.
Puncak gangguan terjadi pada Kamis malam (5 Maret 2026), ketika tanah longsor menutup ruas Jalan Lingkar Kota (JLK) Wonogiri di sisi barat kantor Polres Wonogiri. Material longsoran berupa tanah, batu besar berukuran hingga 3×3 meter, serta pohon sonokeling menutup badan jalan. Longsoran itu juga menimpa jaringan listrik tiga fase dan kabel internet, menyebabkan pemadaman listrik serta gangguan koneksi di kawasan sekitar.
Baca juga : Respons Cepat Polisi Selamatkan Situasi Usai Tabrakan Motor di Desa Tanjung Tengang
Untuk mengantisipasi risiko kecelakaan, petugas kepolisian dan dinas terkait langsung menutup akses di dua titik utama, yaitu Pertigaan Polres dan Pertigaan Krisak. Pembersihan material dilakukan dengan mengerahkan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, sehingga jalur perlahan bisa dilalui kembali.
Fuad Wahyu Pratama menekankan bahwa rangkaian kejadian ini menjadi peringatan serius bahwa potensi bencana masih tinggi. “Meskipun puncak musim hujan telah lewat, curah hujan masih cukup tinggi di beberapa wilayah. Prediksi menunjukkan hujan sedang hingga lebat berpotensi berlanjut hingga dasarian kedua Maret ini,” ujarnya saat dihubungi wartawan pada Jumat (6 Maret 2026).
Fenomena ini sejalan dengan peringatan dini dari BMKG yang masih mencatat potensi cuaca ekstrem di sebagian Jawa Tengah, termasuk hujan lebat disertai angin kencang. Masyarakat Wonogiri diimbau tetap waspada, memantau prakiraan cuaca, serta menjaga lingkungan sekitar rumah dan tebing rawan longsor untuk meminimalkan risiko lebih lanjut.
Pewarta: Nandar Suyadi

