RI News. Wonogiri – Ramadan menjadi momentum penuh berkah bagi pelaku usaha camilan kacang mete di Kabupaten Wonogiri. Sejak awal bulan puasa, pesanan aneka camilan berbahan kacang mete, keripik, dan makanan ringan lainnya melonjak tajam. Sejumlah produsen bahkan mencatat kenaikan omzet hingga 100 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Salah satu produsen camilan kacang mete di Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Sutini, mengungkapkan bahwa sejak awal Ramadan permintaan terhadap produknya meningkat signifikan. Pesanan tidak hanya datang dari warga atau pedagang lokal, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Solo, Bandung, dan Jakarta.
Lonjakan permintaan ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk sajian berbuka puasa, oleh-oleh, hingga stok camilan menyambut Lebaran. Produk seperti keripik pisang dan keripik tempe juga menjadi buruan pembeli, kata Sutini.

Ia menjelaskan, pada kondisi normal, produksinya hanya sekitar 500 kg kacang mete per hari. Selama Ramadan ini, jumlah produksi telah naik dua kali lipat. Sebenarnya, permintaan untuk aneka varian kacang mete jauh lebih tinggi, tetapi kapasitas produksi saat ini terbatas karena keterbatasan tempat dan tenaga kerja.
Harga kacang mete produksi Sutini bervariasi tergantung jenisnya, seperti mete mentah open, mete goreng open, dan mete goreng biasa. Rata-rata, harga jual mete goreng open mencapai Rp170.000 per kg, sedangkan mete goreng biasa (super) Rp150.000 per kg.
Menurut Sutini, momen Ramadan selalu menjadi periode puncak penjualan setiap tahunnya. Selain untuk konsumsi pribadi, banyak pembeli yang memesan dalam jumlah besar untuk dijual kembali atau dijadikan paket hantaran Lebaran.
Untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut, ia menambah jam produksi dan melibatkan tenaga tambahan dari warga sekitar. Meski demikian, Sutini tetap menjaga kualitas produk agar pelanggan tidak kecewa. “Kami tetap mengutamakan kualitas. Jangan sampai karena pesanan banyak, mutu justru menurun,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami oleh Anik, produsen keripik tempe dan keripik pisang di Desa Sambirejo, Kecamatan Jatisrono. Sejak awal Ramadan 2026, ia mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Anik telah memprediksi hal ini sehingga sebelum Ramadan ia menyiapkan bahan baku dua kali lipat dari biasanya.
Biasanya, ia hanya menjual keripik tempe dan keripik pisang sebanyak 50–60 kg per hari. Kini, pesanan keripik pisang saja sudah melampaui 170 kg per hari. Berbeda dengan hari-hari sebelum Ramadan yang lebih banyak menjual langsung ke pedagang, toko, atau konsumen, kini banyak pesanan datang dari luar kota.

“Sejak hari pertama puasa, orderannya luar biasa meningkat. Produksi saya sempat kekurangan stok karena permintaan dari luar kota,” ungkap Anik.
Ia juga memiliki berbagai produk camilan lainnya. “Itu baru dari keripik tempe dan keripik pisang. Belum termasuk keripik-keripik lainnya,” tambahnya.
Untuk meningkatkan produksi selama Ramadan, Anik harus menambah tenaga kerja. Jika biasanya hanya membutuhkan lima orang penggoreng, kini ia memerlukan setidaknya sepuluh orang agar dapat memenuhi kebutuhan pasar.
Pewarta: Nandar Suyadi

