RI News. Jakarta – Dalam dunia animasi yang semakin ramai dengan cerita tentang lingkungan dan identitas, “Hoppers” dari Pixar muncul sebagai petualangan segar yang tak malu-malu meminjam elemen dari kisah-kisah klasik. Film ini, yang disutradarai oleh Daniel Chong, mengikuti Mabel Tanaka, seorang aktivis remaja berusia 19 tahun yang penuh semangat, saat ia menyusup ke alam liar melalui tubuh robot berbentuk berang-berang. Bukan sekadar cerita tentang penyelamatan lingkungan, “Hoppers” menyajikan campuran humor absurd, referensi budaya pop, dan momen emosional yang membuatnya menonjol di tengah deretan produksi animasi belakangan ini.
Cerita dimulai di Beaverton, sebuah kota kecil di mana Mabel (disuarakan oleh Piper Curda) berjuang melawan rencana Walikota Jerry (Jon Hamm) untuk membangun jembatan layang yang mengancam sebuah lahan hijau berharga. Dengan bantuan teknologi canggih, Mabel memindahkan kesadarannya ke robot berang-berang, memungkinkannya berkomunikasi dengan hewan-hewan liar. Di sana, ia bertemu King George (Bobby Moynihan), seorang berang-berang ramah yang menyukai lagu-lagu era 80-an dan memimpin komunitas hewan yang harmonis tapi rapuh. Persahabatan mereka segera berubah menjadi kekacauan ketika aksi Mabel memicu konflik antarspesies, lengkap dengan elemen-elemen tak terduga seperti hiu terbang dan intrik politik serangga.

Apa yang membuat “Hoppers” begitu menghibur adalah keberaniannya dalam merangkul pengaruh dari film-film sebelumnya. Dari nuansa “Avatar” hingga sentuhan humor ala “The Simpsons”, Chong tidak menyembunyikan referensi tersebut—malah, ia menjadikannya bagian dari lelucon. Karakter pendukung seperti ilmuwan panik Dr. Fairfax (Kathy Najimy) menambahkan lapisan komedi, sementara ensemble suara bintang seperti Meryl Streep, Sam Richardson, Dave Franco, Ego Nwodim, dan Vanessa Bayer membuat setiap momen terasa hidup. Ini mengingatkan pada kehangatan ensemble di “Luca”, di mana setiap karakter, meski muncul sebentar, meninggalkan kesan mendalam.
Baca juga : Pengorbanan di Tengah Gejolak Timur Tengah: Kisah Enam Prajurit AS yang Gugur di Kuwait
Secara visual dan naratif, film ini menawarkan perpaduan antara aksi ringan dan taruhan yang cukup intens untuk rating PG. Bayangkan campuran antara petualangan alam liar dengan elemen sci-fi seperti pertukaran tubuh yang lebih liar dari “Freaky Friday”. Meski plotnya melompat-lompat dari kisah kecil menjadi kekacauan besar, justru itulah daya tariknya: sebuah perjalanan yang tak terduga, penuh tawa, dan sesekali menyentuh hati tentang pentingnya empati lintas spesies. Setelah proyek sebelumnya seperti “Elio” yang terasa berat, “Hoppers” terasa seperti hembusan udara segar bagi Pixar, meski belum mencapai puncak seperti karya-karya ikonik mereka.
Dengan durasi 105 menit, “Hoppers” cocok untuk keluarga yang mencari hiburan akhir pekan yang cerdas dan menyenangkan. Rating PG karena elemen aksi, bahasa ringan, dan gambar menakutkan ringan membuatnya aman untuk anak-anak, tapi cukup matang untuk orang dewasa. Secara keseluruhan, ini adalah lompatan menyenangkan yang layak ditonton—tiga setengah bintang dari empat. Film ini tayang di bioskop mulai Jumat ini, siap membawa penonton ke dunia di mana manusia dan hewan bersatu dalam kekacauan yang menggembirakan.
Pewarta : Vie

