RI News. Dubai, United Arab Emirates — Perang terbuka antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari keenam pada Kamis (6 Maret 2026), dengan eskalasi yang semakin meluas ke berbagai negara di kawasan dan sekitarnya. Serangan udara gabungan AS-Israel terus menghantam sasaran militer, fasilitas nuklir, dan pusat komando di seluruh wilayah Iran, sementara Teheran merespons dengan gelombang rudal balistik dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan keterlibatannya dalam proses suksesi kepemimpinan Iran pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada serangan awal perang. Dalam pernyataan terbaru, Trump menolak calon pengganti potensial seperti Mojtaba Khamenei, menyebutnya tidak layak dan menekankan keinginan untuk pemimpin baru yang mampu membawa stabilitas serta perdamaian bagi rakyat Iran. Pernyataan ini memicu perdebatan luas mengenai tujuan strategis operasi militer ini—apakah semata-mata melemahkan kemampuan militer Iran atau mengarah pada perubahan rezim secara keseluruhan.
Di lapangan, Israel melancarkan gelombang serangan udara ke-11 terhadap Teheran, menyasar pusat komando Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), sistem rudal, dan depot amunisi. Militer Israel juga melaporkan pertempuran darat di selatan Lebanon, di mana pasukan mereka melintasi perbatasan untuk menghadapi militan Hizbullah yang didukung Iran. Hizbullah sendiri telah bergabung aktif dalam konflik, meluncurkan rentetan rudal ke wilayah utara Israel, memaksa ribuan warga berlindung di tempat perlindungan.

Iran, melalui IRGC, mengklaim telah menimbulkan kerusakan signifikan pada target militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Serangan drone dan rudal juga dilaporkan mengenai fasilitas di Arab Saudi, Qatar, serta wilayah Azerbaijan—meskipun Teheran membantah tuduhan penargetan sipil. Di laut, Angkatan Laut AS menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia, memicu ancaman balasan keras dari Menteri Luar Negeri Iran yang menyebutnya sebagai “kekejaman di laut” dan memperingatkan AS akan menyesali tindakan tersebut.
Dampak ekonomi global semakin terasa. Penutupan sebagian Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, sementara gangguan penerbangan internasional memaksa ribuan warga asing berusaha pulang dari kawasan. Di Lebanon, peringatan evakuasi massal dikeluarkan untuk pinggiran selatan Beirut menjelang potensi pemboman besar-besaran.
Baca juga : Sengketa Lahan Bersejarah Sat Lantas Polres Kebumen: Proses Sertifikasi Ditunda, Mediasi Jadi Opsi Utama
Korban jiwa terus bertambah. Pejabat Iran melaporkan lebih dari 1.230 warga tewas akibat serangan udara, sementara di Lebanon korban mencapai lebih dari 100 orang. Di Israel, korban relatif lebih rendah, namun enam tentara AS dilaporkan gugur dalam operasi. Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan mencatat adanya bentrokan darat dan ledakan di dekat perbatasan.
Para analis menilai konflik ini berpotensi berlangsung beberapa minggu lagi, dengan fokus utama koalisi AS-Israel pada penghancuran kemampuan rudal balistik Iran sebelum stok pencegat mereka menipis. Namun, penyebaran ke negara-negara tetangga meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas, termasuk keterlibatan aktor baru dari berbagai pihak.
Situasi tetap sangat dinamis, dengan serangan balasan dan respons militer yang terus berlangsung di berbagai front.
Pewarta : Setiawan Wibisono

