RI News. Jakarta – kompetisi Liga Inggris musim 2025/2026, Manchester City berhasil meraih kemenangan krusial 2-1 atas Newcastle United di Stadion Etihad, Minggu dini hari waktu Indonesia Barat. Hasil ini tidak hanya mempertahankan momentum tim asuhan Pep Guardiola, tetapi juga memangkas selisih poin dengan pemuncak klasemen Arsenal menjadi hanya dua angka, menjanjikan persaingan sengit menuju akhir musim. Dengan performa gemilang dari pemain muda Nico O’Reilly, City menunjukkan kedalaman skuad yang menjadi kunci dalam perburuan gelar.
Pertandingan ini dimulai dengan intensitas tinggi, di mana City langsung mengambil inisiatif serangan sejak peluit pertama dibunyikan. Hanya dalam 14 menit, O’Reilly, gelandang berusia 20 tahun jebolan akademi City, membuka keunggulan melalui tembakan akurat yang memanfaatkan umpan matang dari Omar Marmoush. Meski kiper Newcastle, Nick Pope, sempat menyentuh bola, upaya itu tak cukup untuk mencegah gol pertama. Keunggulan ini mencerminkan strategi City yang mengandalkan kecepatan dan presisi umpan, sebuah pola permainan yang telah menjadi ciri khas mereka di bawah Guardiola.
Namun, Newcastle tidak tinggal diam. Delapan menit kemudian, Lewis Hall menyamakan kedudukan lewat gol yang tercipta dari assist Jacob Ramsey, menunjukkan ketangguhan tim tamu dalam memanfaatkan celah pertahanan lawan. Gol ini sempat mengguncang ritme City, mengingatkan pada kerentanan mereka terhadap serangan balik cepat. Situasi imbang tak bertahan lama; pada menit ke-27, O’Reilly kembali menjadi pahlawan dengan sundulan mematikan yang menyambut operan Erling Haaland. Brace dari pemain muda ini bukan hanya statistik, melainkan bukti evolusi generasi baru di City, di mana talenta akademi mulai mendominasi panggung utama, mengurangi ketergantungan pada bintang-bintang mapan.

Menjelang akhir babak pertama, Newcastle nyaris menyamakan skor lagi melalui tandukan Dan Burn, tetapi gol tersebut dianulir oleh VAR karena posisi offside. Keputusan ini menjadi momen krusial, menjaga keunggulan City 2-1 hingga turun minum. Analisis taktis menunjukkan bahwa penggunaan teknologi VAR dalam laga ini tidak hanya memastikan keadilan, tetapi juga memengaruhi dinamika psikologis tim, di mana Newcastle kehilangan momentum yang bisa saja mengubah arah pertandingan.
Memasuki babak kedua, Newcastle tampil lebih dominan dalam penguasaan bola, mencoba membalikkan keadaan dengan serangan bertubi-tubi. Namun, ketajaman mereka di depan gawang kurang, sementara pertahanan City, yang dikawal kiper Gianluigi Donnarumma, tampil solid. Beberapa ancaman dari City juga berhasil digagalkan Pope, menjaga ketegangan hingga akhir. Puncak drama terjadi di detik-detik terakhir ketika sepakan Harvey Barnes nyaris menyamakan skor, tapi ditepis tipis oleh Donnarumma, memastikan kemenangan tetap milik tuan rumah.
Secara keseluruhan, kemenangan ini membawa City ke posisi kedua dengan 56 poin dari 27 pertandingan, hanya tertinggal dua poin dari Arsenal yang mengumpulkan 58 poin dari jumlah laga sama. Sementara itu, Newcastle tertahan di peringkat 10 dengan 36 poin, menandai tantangan mereka dalam bersaing di papan atas. Dari perspektif akademis, pertandingan ini mengilustrasikan bagaimana integrasi pemain muda seperti O’Reilly dapat menjadi faktor diferensiasi dalam liga yang semakin kompetitif, di mana strategi jangka panjang pengembangan talenta memberikan keuntungan berkelanjutan. Hasil ini juga menegaskan tren musim ini, di mana perebutan gelar semakin bergantung pada konsistensi dan adaptasi taktis, bukan sekadar kekuatan finansial. Dengan sisa musim yang masih panjang, City kini berada di posisi ideal untuk mengejar Arsenal, sementara Newcastle harus segera bangkit untuk menghindari stagnasi di papan tengah.
Pewarta : Vie

