RI News. Pontianak – Menyongsong bulan suci Ramadhan yang dimulai 19 Februari 2026 dan Hari Raya Idul Fitri sekitar Maret 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) menggelar serangkaian langkah antisipatif guna meredam gejolak harga komoditas peternakan. Upaya ini menjadi krusial mengingat permintaan telur, daging ayam, dan produk sejenis biasanya melonjak tajam pada periode Hari-Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN).
Kepala Disbunnak Provinsi Kalbar, Ignasius, mengakui bahwa tren kenaikan harga pada momen-momen tersebut hampir tak terelakkan. “Kenaikan ini sulit dihindari sepenuhnya karena kebutuhan masyarakat meningkat berkali-kali lipat,” ujarnya dalam wawancara eksklusif, Jumat (26/4). Meski demikian, pihaknya tidak hanya bergantung pada mekanisme rapat koordinasi pengendalian inflasi yang rutin digelar, melainkan memperkenalkan inovasi konkret untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Salah satu terobosan utama adalah program “Geraiku”, gerai khusus yang menyediakan telur ayam dan produk peternakan lainnya langsung pada harga tingkat peternak. “Melalui Geraiku, kami menawarkan telur dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Langkah ini setidaknya meringankan beban pengeluaran rumah tangga sekaligus membantu menekan laju inflasi komoditas,” papar Ignasius.

Tak berhenti di situ, Disbunnak juga menyiapkan stok daging beku sebagai alternatif pasokan. Ignasius menegaskan bahwa seluruh produk yang disalurkan telah memenuhi standar kebersihan dan kehalalan sesuai ketentuan syariat serta regulasi yang berlaku. “Daging beku kami proses secara higienis dan halal, sesuai peraturan perundang-undangan. Semua produk yang kami distribusikan terjamin kehalalannya,” tegasnya.
Untuk memastikan efektivitas pengendalian harga, tim Disbunnak hampir setiap hari melakukan pemantauan langsung di pasar dan lapangan. Mereka aktif berkoordinasi dengan peternak serta pengusaha ayam potong dan telur, mengimbau agar kenaikan harga—if ada—tetap berada pada koridor wajar. “Kami minta kenaikan harga jangan berlebihan. Dampaknya akan sangat terasa bagi masyarakat luas, terutama kalangan bawah,” imbau Ignasius.
Baca juga : Jawa Tengah Siap Melahirkan Sembilan Pusat Industri Baru untuk Percepat Keseimbangan Ekonomi
Ignasius juga mengungkapkan tantangan klasik di sektor ini: produksi lokal belum selalu mencukupi lonjakan permintaan mendadak. Dalam kondisi tersebut, pasokan dari luar provinsi menjadi opsi tak terhindarkan, khususnya untuk komoditas daging. Ia menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang oleh pelaku usaha. “Kami sudah berulang kali menghimbau agar para peternak dan pengusaha mengantisipasi jauh-jauh hari. Lebih baik harga naik sedikit tapi barang tersedia, daripada harga melonjak tinggi sementara stok kosong,” pungkasnya.
Dengan kombinasi pemantauan intensif, inovasi distribusi seperti Geraiku, serta pasokan cadangan yang terjamin, Pemprov Kalbar berupaya menjaga stabilitas harga pangan hewani selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Langkah ini diharapkan tidak hanya menstabilkan ekonomi mikro masyarakat, tetapi juga mendukung ketenangan ibadah umat Muslim di tengah potensi tekanan ekonomi musiman.
Pewarta : Salmi Fitri

