RI News Portal. Jakarta – Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra meluncurkan delapan buku yang merangkum rekam jejak hidupnya selama tujuh dekade, sekaligus memotret pergulatan intelektual, politik, dan hukum Indonesia sejak era mahasiswa hingga masa kini. Acara peluncuran digelar di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
“Buku-buku ini memang bersifat jejak perjalanan sepanjang 70 tahun kehidupan saya,” ujar Yusril dalam sambutannya. “Setengah abad itu kira-kira mulai umur 20 tahun ketika saya aktif sebagai mahasiswa dan mulai terlibat dalam pergerakan-pergerakan sosial dan politik pada waktu itu sampai dengan saat sekarang ini.”
Ia menegaskan, delapan judul tersebut bukan sekadar memoar pribadi. “Tidak hanya menyangkut saya pribadi, tetapi juga menyangkut perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.
Delapan buku itu ditulis oleh rekan-rekan dan murid-muridnya, dengan Yusril sendiri turut terlibat sebagai editor pada dua di antaranya. Yang paling tebal, The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dan Testimoni Kolega (926 halaman), membongkar kisah-kisah di balik layar sejarah resmi—dari perdebatan sunyi hingga keteguhan prinsip yang sering tak terekam dalam narasi publik.

Sementara The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi (492 halaman) mengajak pembaca masuk ke ruang batin seorang intelektual yang memilih pengabdian sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar ambisi kekuasaan.
Dua buku lain yang disunting Yusril bersama Prof. Dr. Hafid Abbas, Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia (192 halaman), serta karya Dr. Herdito Sandi Pratama, Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi (322 halaman), menegaskan konsistensi Yusril dalam menempatkan nilai-nilai keislaman dalam kerangka negara kebangsaan yang plural dan konstitusional.
Buku Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan (460 halaman) karya Ahmadie Thaha menyoroti pemikiran Yusril tentang hukum restoratif—hukum yang bukan hanya menghukum, melainkan memulihkan relasi sosial dan martabat manusia. Sedangkan The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (540 halaman) mendokumentasikan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi yang pernah melibatkan Yusril sebagai kuasa hukum atau saksi ahli, menunjukkan bagaimana argumentasi hukum dapat mengubah tafsir undang-undang.
Dua buku yang lebih personal, Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat (112 halaman) dan novel biografis Di Mana Bumi Dipijak (188 halaman) karya Andre Syahreza, menghadirkan potret Yusril dari sudut pandang sahabat dan melalui lensa sastra—dari anak kampung pesisir Belitung hingga tokoh yang pernah menduduki kursi Menteri Sekretaris Negara.
Baca juga : Prabowo: MUI sebagai Penjaga Abadi Stabilitas Bangsa di Tengah Badai Bencana
Yusril menyatakan semua buku akan dibagikan gratis kepada tamu undangan dan tersedia sebagai e-book tanpa batas hak cipta bagi masyarakat luas. “Siapa yang mau mengunduh, silakan saja. Jadi tidak ada persoalan hak cipta. Makin banyak buku dibaca orang, makin bagus dan makin tersebarlah ide-ide yang ada di dalam buku-buku itu,” katanya.
Mantan Menteri Sekretaris Negara itu juga mengaku tak pernah menyangka bisa mencapai usia 70 tahun. “Satu hal yang saya tidak menyangka sama sekali usia sampai 70 tahun,” ujarnya sambil menyampaikan rasa syukur. Ia berharap masih diberi kesehatan untuk terus mengabdi bagi kepentingan bangsa dan negara.
Dengan peluncuran ini, Yusril Ihza Mahendra tidak hanya menutup babak perjalanan pribadinya, melainkan juga menyerahkan catatan intelektualnya sebagai warisan terbuka—sebuah undangan bagi generasi mendatang untuk membaca, mengkritik, dan melanjutkan diskusi tentang Islam, demokrasi, hukum, dan kebangsaan Indonesia.
Pewarta : Yudha Purnama

