RI News Portal. Surabaya – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong penyusunan peta jalan komprehensif untuk pembangunan fasilitas Floating Storage Regasification Unit (FSRU) sebagai langkah strategis jangka menengah hingga panjang guna mengamankan keandalan pasokan gas bumi di Jawa Timur.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menekankan urgensi inisiatif ini di tengah tren peningkatan signifikan permintaan gas dari berbagai sektor, termasuk industri manufaktur, pembangkit listrik, serta keperluan rumah tangga dan komersial. Pernyataan tersebut disampaikannya saat berada di Surabaya pada Selasa lalu.
“FSRU menawarkan fleksibilitas tinggi sebagai sumber pasokan tambahan yang dapat diandalkan, terutama di kawasan dengan konsumsi energi gas yang masif seperti Jawa Timur,” ujar Wahyudi.
Menurutnya, kehadiran FSRU beserta infrastruktur regasifikasi pendukung lainnya akan memperkuat sistem pasokan berbasis Liquefied Natural Gas (LNG) yang terhubung langsung dengan jaringan pipa transmisi yang sudah ada di wilayah tersebut. Pendekatan ini memungkinkan diversifikasi sumber energi sekaligus menjaga kontinuitas distribusi di saat terjadi fluktuasi pasokan dari sumber konvensional.

Data terkini menunjukkan penyerapan gas bumi melalui jaringan transmisi di Jawa Timur mencapai rata-rata sekitar 413,88 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD). Angka ini menggambarkan betapa krusialnya gas bumi sebagai tulang punggung aktivitas ekonomi regional, mulai dari proses produksi industri hingga dukungan ketahanan energi secara keseluruhan.
Dengan proyeksi kebutuhan yang terus meningkat seiring pemulihan dan ekspansi ekonomi pasca-pandemi, Wahyudi menilai penguatan infrastruktur menjadi keniscayaan. FSRU diharapkan berfungsi sebagai buffer strategis yang mampu meredam risiko gangguan pasokan, sekaligus mendukung program pemerataan akses energi di berbagai kabupaten/kota di provinsi ini.
Lebih lanjut, integrasi antara jaringan pipa eksisting dengan terminal LNG berbasis FSRU diyakini akan membentuk ekosistem gas bumi yang lebih tangguh dan efisien. Hal ini tidak hanya menjamin kestabilan pasokan bagi pelaku usaha besar, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan industri kecil-menengah yang bergantung pada energi bersih dan kompetitif.
Baca juga : Akses Vital ke Komunitas Adat Terpencil Sikundo Aceh Barat Akhirnya Terbuka Kembali Pasca Banjir Bandang
“Melalui diversifikasi sumber via LNG dan infrastruktur fleksibel seperti FSRU, kita dapat menciptakan fondasi yang kokoh bagi daya saing industri Jawa Timur di tingkat nasional maupun global, sambil mempercepat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan,” tutup Wahyudi.
Langkah ini sejalan dengan upaya nasional untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi, di mana Jawa Timur sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia diharapkan menjadi model bagi wilayah lain dalam mengintegrasikan solusi inovatif untuk ketahanan energi jangka panjang.
Pewarta : Wisnu H

