RI News Portal. Cape Canaveral, Fla — NASA memulai fase krusial menuju peluncuran misi berawak pertama ke arah Bulan dalam lebih dari setengah abad. Pada Sabtu malam waktu setempat, hitung mundur resmi untuk uji pengisian bahan bakar roket Space Launch System (SLS) telah dimulai di Kennedy Space Center, Florida. Tes ini, yang dikenal sebagai “wet dress rehearsal”, menjadi penentu utama kapan empat astronot dapat melesat mengelilingi Bulan.
Komandan Reid Wiseman bersama Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA), saat ini masih menjalani karantina ketat di Houston. Mereka memantau setiap detik proses simulasi peluncuran dari jarak jauh, sebelum bergabung di lokasi peluncuran beberapa hari sebelum tanggal target. Awak ini akan menjadi manusia pertama yang meninggalkan orbit rendah Bumi sejak misi Apollo 17 pada 1972, menandai babak baru dalam eksplorasi antariksa berawak.

Roket SLS setinggi hampir 100 meter telah berdiri tegak di Launch Pad 39B sejak dua minggu lalu. Uji pengisian bahan bakar super dingin—lebih dari 2,6 juta liter propelan kriogenik—dilakukan pada Senin, 2 Februari 2026, setelah cuaca ekstrem dingin memaksa penundaan dua hari. Proses dihentikan sekitar 30 detik sebelum pengapian mesin, untuk memastikan semua sistem berfungsi optimal tanpa risiko penuh.
Jika tes ini berjalan mulus, peluncuran Artemis II paling cepat dapat dilakukan pada Minggu, 8 Februari 2026, pukul sekitar 23.20 waktu setempat (atau Senin dini hari WIB). Jendela peluncuran terbatas pada beberapa hari di awal Februari, dengan cadangan hingga Maret atau April jika diperlukan. Misi berdurasi sekitar 10 hari ini akan membawa awak melintasi sisi jauh Bulan pada jarak lebih dari 230.000 mil dari Bumi, menguji sistem navigasi, perlindungan radiasi, dan kapsul Orion dalam kondisi antariksa dalam sebelum kembali mendarat di Samudra Pasifik.
Baca juga : King of Plate Wonogiri: Saat Peluru Menyatukan Seragam dan Sipil dalam 6,51 Detik Rekor
Berbeda dari era Apollo yang berfokus pada pendaratan cepat, Artemis II menekankan pengujian teknologi berkelanjutan untuk kehadiran jangka panjang di Bulan. Awak yang beragam—termasuk wanita pertama dan astronot Kanada pertama yang mencapai jarak tersebut—menggarisbawahi komitmen kolaborasi internasional dan inklusivitas dalam program Artemis. Keberhasilan misi ini akan membuka jalan bagi pendaratan berawak di permukaan Bulan pada Artemis III dan akhirnya perjalanan manusia ke Mars.
Dengan hitung mundur yang telah berjalan, dunia antariksa kembali menahan napas menyaksikan langkah besar umat manusia menuju era eksplorasi baru.
Pewarta : Setiawan Wibisono

