RI News Portal. Brebes, Jawa Tengah – Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Alun-alun Brebes pada Sabtu (31/1/2026), saat ribuan nahdliyin dari berbagai penjuru kabupaten memadati lapangan terbuka itu untuk mengikuti puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100. Acara Istighosah Kubro dan doa bersama menjadi puncak rangkaian kegiatan yang mencerminkan semangat kebersamaan serta rasa syukur atas satu abad perjalanan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.
Sejak subuh, arus jamaah sudah mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai kecamatan di Brebes, bahkan ada rombongan dari desa-desa terpencil yang berjalan kaki atau naik kendaraan bersama sambil mengenakan atribut NU berwarna hijau khas serta busana muslim serba putih. Alun-alun yang biasanya ramai dengan aktivitas sehari-hari, sore itu berubah menjadi lautan manusia yang duduk tertib, siap mengikuti rangkaian spiritual sepanjang pagi hingga siang.
Kegiatan dibuka dengan khotmil Qur’an secara bersama-sama, sebagai wujud ikhtiar spiritual dan ungkapan syukur atas kontribusi NU selama seabad dalam membumikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat dan rahmatan lil alamin. Para peserta khusyuk mendengarkan tilawah ayat-ayat suci, diikuti pemantapan doa agar NU tetap istiqomah menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta terus memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Puncak acara, Istighosah Kubro, dipimpin oleh para kiai dan ulama karismatik setempat dari berbagai wilayah Brebes. Lantunan dzikir, shalawat, dan doa-doa panjang menggema memenuhi udara, menciptakan atmosfer religius yang terasa menyejukkan jiwa. Ribuan tangan terangkat, sebagian jamaah terlihat menitikkan air mata dalam haru dan khusyuk, menandakan kedalaman emosional yang muncul dari momen bersejarah ini.
Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Selain mengikuti rangkaian doa, acara ini sekaligus menjadi sarana silaturahmi lintas generasi: dari para santri muda, pengurus badan otonom NU seperti Ansor, Fatayat, Muslimat, hingga warga masyarakat umum. Kehadiran berbagai elemen masyarakat itu memperkuat pesan bahwa NU bukan sekadar organisasi, melainkan rumah besar yang merangkul semua lapisan.
Tak hanya bernuansa keagamaan, peringatan ini juga menampilkan simbol sinergi antara masyarakat dan negara. Aparat kepolisian dari Polres Brebes turut serta memeriahkan dengan tim hadroh yang memainkan rebana dan shalawat. Kapolres Brebes bahkan hadir langsung, ikut bergabung dalam irama hadroh bersama anggotanya. Sambutan hangat dari jamaah terhadap kehadiran pimpinan polisi itu menjadi bukti nyata hubungan harmonis antara ulama, umara, dan masyarakat dalam menjaga kondusivitas serta mendukung kegiatan keagamaan skala besar.
Baca juga : Pemandang di Atas Reruntuhan Nuklir: Iran Mulai Menyelamatkan “Harta Karun” Tersembunyi Pasca-Serangan 2025?
Melalui Istighosah Kubro ini, warga NU Brebes merefleksikan peran historis organisasi yang telah berdiri selama satu abad. NU dikenal konsisten mempromosikan Islam toleran, cinta tanah air, serta aktif berkontribusi dalam menjaga persatuan NKRI. Momentum satu abad ini diharapkan menjadi penguatan bagi NU agar semakin solid, kokoh, dan relevan di tengah dinamika zaman.
Di akhir acara, para peserta berdoa agar NU terus menjadi benteng moral dan spiritual bangsa, mempererat ukhuwah islamiyah, serta mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Peringatan Harlah ke-100 di Brebes ini sekaligus menjadi pengingat bahwa NU tetap teguh berdiri sebagai payung besar umat, menyatukan keragaman dalam semangat kebersamaan dan keikhlasan.
Pewarta: Ikhwanudin

